Review Star Trek Beyond (2016) | Cerita Klasik Rasa Baru

 

Tiga kata: It is Great.

Film lanjutan dari Star Trek (2009) dan Star Trek Into Darkness (2013) ini mengalahkan keduanya dari segi cerita dan aksi laga. Gimana gak? Film ini menawarkan cerita yang kaya dengan pengembangan karakter, garis besar cerita, dan penjahat yang berbobot.

StoryLine

Justin Lin, sang sutradara, memang pertama kali untuk menyutradarai serial film Star Trek yang sebelumnya dipegang oleh JJ Abrams. Tapi bukan pertama kali untuknya membuat film action, kita tahu dari film besutannya yakni film Fast and Furious : Tokyo Drift (2006) hingga Furious 6 (2013).

Ia berhasil membawa cerita yang bagus, tidak klise ataupun dipaksakan. Didukung, tentu saja, oleh naskah film yang ditulis oleh Simon Pegg (cast as Scotty) dan Doug Jung.

Dari opening hingga ending, penonton disuguhkan dengan sequence action yang apik abis. Setiap adegannya dibuat secara relevan, di mulai narasi Kapten Kirk, kondisi kru Entreprise, kehancuran Entreprise oleh “lebah-lebah”-nya Krull, sampai plot twist yang gak ketebak.

Simon Pegg mengeluhkan dalam penulisan naskah sebelumnya di mana pesawat Entreprise selalu melawan pesawat2 lain yang lebih besar, dan musuh yang memiliki background story yang terlalu luas. Maka dari itu, dia memilih lawan dengan ruang lingkup yang kecil dan pesawat musuh yang kecil, tapi berjumlah banyak. Dengan itu tampak Entreprise memiliki lawan yang lebih tangguh dan rasa bahaya lebih terlihat.

well done, Simon.

Characters

Film ini juga berhasil menangkap gambaran karakter2 Star Trek dengan tepat, jelas, dan menarik. Sulu yang memiliki anak dengan suaminya, hubungan Uhura dan Spock, sarkasme Bones yang selalu dirindukan, dan kegelisahan Kirk sebagai kapten, dll.

Semua detail dari karakter, baik perilaku ataupun kejadian, sangat memukau karena relevan dan terlihat bagus. Setiap karakter kebagian frame dalam film dan menunjukkan bagaimana dan apa yang mereka lakukan.

Bones dan Spock kebagian adegan bareng yang kocak dan emosional, serta Bones dan Kirk soal ulang tahun Kirk dan Mr. Sensitive. (nice touch)

Itulah yang kurang dari kedua film sebelum ini, yakni pengembangan karakter yang mengingatkan para pecinta Star Trek mengapa mereka mencintainya. Ini lah yang seharusnya ada di Star Trek, ini lah cerita tentang Star Trek. Sebab Star Trek itu bukan soal alien, ilmu sains, teknologi, atau planet asing, melainkan tentang karakter.

Kirk, Spock, Uhura, Bones, Sulu, Scotty, mereka lah yang membawakan Star Trek untuk dicintai dan ditonton oleh fans di seluruh dunia.

Ketambahan karakter baru, Jaylah yang badass banget dan dia menarik sebagai karakter untuk masuk ke film ini, dan dia bukan tipe karakter yang dipaksakan harus ada, dia relevan.

Krull, sebagai antagonis utama, merupakan karakter yang jahat dan kejam. Di awal2 film penonton tidak tahu motivasi Krull melawan Entreprise dan Federation, tapi setelah pada adegan mendekati akhir penonton tahu, seperti “Ooh jadi begitu toh”. That’s the plot twist, guys.

Menonton film ini seperti menonton sebuah episode serial tv Star Trek (1966-1969). Bener2 kerasa cerita yang memainkan kedekatan penonton dengan kru Entreprise.

Penulis suka dengan referensi foto lama pemain Stark Trek dari serial tv dan film tahun 70an. Live long and prosper, Leonard Nimoy (aktor original karakter Spock).

Cinematography, Film Scores, And Visual FX

Akhirnya, film Star Trek tanpa efek Lens Flare yang menjadi ciri khas JJ Abrams. Tapi karena JJ Abrams sibuk ngurusin Star Wars, maka efeknya dibawa ke film itu. Sad.

Pengambilan adegan per adegan tepat dan dynamic rotation-nya keren abis bikin terlihat seperti film Fast and Furious aja. Apalagi smooth rolling ketika adegan tembak2an kru Entreprise dengan anak buahnya Krull. Ditambah visual efek yang praktikal dan CGI juga makin keren, terlihat halus dan pencahayaanya menyakinkan penonton.

Time lapse pembagunan Entreprise oh keren, apalagi itu time lapse animasi bukan foto.

Film scores-nya emang ga berubah, udah lagu tema Star Trek dari dulu memang begitu. Ketika adegan2 penting seperti, Kirk mengutarakan isi pikirannya, adegan tembak2an, Entreprise jatuh dan hancur, para kru dihisap energi hidupnya, serta Kirk membawa PX70 (motor lawas) ke tempat Krull itu memiliki soundtrac yang keren2.

Eits, jangan lupa soundtrack pas kru Entreprise menghabisi “lebah-lebah” Krull dengan frekuensi musik rock tahun ’90an juga gak kalah keren. Lagunya itu Sabotage by Beastie Boys.

Rating : 8.3 out of 10.

Selamat menonton filmnya.

Thanks for reading this, and always read books.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s