Review Me Before You (2016) |Realita Cinta dengan Plot Datar

Film adaptasi dari buku Me Before You oleh Jojo Moyes ini mungkin bagus ketika dari segi keunikan karakter seperti The Fault In Our Stars (2014). Hanya saja, untuk film ini tidak begitu bisa memberikan alasan: Mengapa perlu nonton ini?

Bukan ngomong ini film jelek, tapi ini juga tidak sebegitu bagus.

StoryLine

Hmm, dengan jam nonton yang tinggi dan apalagi jika sudah menonton beberapa film romantis, film ini akan terasa hambar. Pengembangan cerita tidak terasa ada yang memorable / dapat diingat karna setiap adegan tidak memberikan titik berat yang cukup untuk cerita dapat berkembang secara matang.

Namun, ada beberapa adegan yang dapat dengan mudah diberikan nilai B+, seperti ketika Lou sadar bahwa Will memilih untuk melakukan bunuh diri dengan tenang daripada hidup dengan penuh ketidaknyamanan dan kesakitan.

Dinamika cerita bergelombang agar menjaga penonton untuk tetap tertarik menonton, tapi tidak untuk film ini. Dinamika cerita hanya menitikberatkan pada beberapa adegan saja sebelum penonton dibawa pada keinginan Will akan hidupnya, atau kematiannya.

Ini memang film romantis yang mengajarkan penonton tentang Five Stages of Grief. Untuk Will menerima kenyataan bahwa hidupnya tidak akan menjadi lebih baik lagi, maka dia memutuskan untuk bunuh diri. Untuk Lou, dia menerima kenyataan bahwa cinta tidak selamanya berarti memiliki.

Characters

Performa akting Sam Caflin dan Emilia Clarke tidak diragukan, walaupun mereka memberika akting yang bagus, sayangnya cerita keseluruhan tidak mendukung.

Jenna Coleman, senang melihat dia setelah bermain di Doctor Who sebagai Clara Oswald. Tentunya dia berakting bagus, tapi karakternya tidak diberikan kesempatan untuk digali lebih dalam dengan hubungannya dengan Lou dan Will.

Janet McTeer dan Charles Dance berperan sebagai orang tua Will, mereka memberikan akting yang lebih mencolok dan mendalam daripada karakter lain di film ini. Bravo.

Cinematography

Ini lah yang terasa bagus. Film ini memberikan estetika frame untuk memperlihatkan kedalaman karakter tanpa dialog, seperti ketika Will melihat keluar jendela sembari melihat sinar matahari menyelinap dari awan gelap.

Pintarnya film ini memberikan perbedaan saturasi warna pada pakaian dan frame untuk Lou dan Will di mana saturasi cerah untuk Lou yang ceria dan ceroboh, sedangkan frame close-up dan saturasi gelap untuk Will yang merenung kehidupan dan rasa sakitnya.


Rating

Setelah melihat dan memikir untuk beberapa menit maka penulis memberi rating:

5,9 / 10.

Oke, cukup untuk review ini. Silahkan komen jika ada unek2 yang kamu pingin keluarin.

Thanks for reading, and always read more books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s