Review Deepwater Horizon (2016) | Aksi Non-Stop Yang Realistis & Berani

 

Film adaptasi dari kisah nyata kecelakaan oil rig (pengeboran minyak) paling tragis dalam sejarah Amerika Serikat di mana film ini didedikasikan untuk para pekerja yang selamat dan sebagai sebuah tribut untuk yang tidak.

Deepwater Horizon disutradarai oleh Peter Berg, dan dibintangi oleh Mark Wahlberg dan Kurt Russell. Film ini menandai kedua kalinya Peter Berg dan Mark Wahlberg bekerja sama dalam film adaptasi kisah nyata, yang pertama adalah Lone Survivor (2013).

StoryLine

Film ini bener-bener gak punya “Hollywood momen” di mana adegan tipikal / biasa digunakan Hollywood untuk menyampaikan kisah nyata ke layar lebar, seperti yang dilakukan Sully (2016) pada act one / babak pertama dan Snowden (2016) pada act two / babak kedua.

Seolah-olah momen itu dibiasakan untuk karakter-karakter penting sehingga terlihat atau terkesan titik berat cerita utama film adalah pada karakter tersebut. Tapi tidak di film ini. Thank goodness.

Film ini dibawakan dengan sangat realitis, tidak terlihat seperti ketika menonton film-film Michael Bay. ups.

Pada act one / babak pertama setiap karakter diperkenalkan dan diset untuk memberikan bobot sehingga penonton tertarik untuk berfokus pada mereka. Dengan secara halus, sehingga penonton tidak terasa dipaksa untuk menyukai / berfokus pada karakter tersebut.

Film ini mengambil waktu dengan tidak terburu-buru untuk membangun lingkungan setting, karakter, dan adegan-adegan yang ada. Dengan begitu cerita nyata yang pada dasarnya sudah bukan rahasia lagi, dapat terasa seperti kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi. Seolah-olah ada informasi baru yang akan muncul (kecelakaan, lebih tepatnya) dan menggoyahkan setiap usaha karakter untuk menyelamatkan diri mereka dari ledakan-ledakan. Man, that was intense.

Characters

Seperti tertulis di atas, setiap karakter kebagian adegan untuk penonton sehingga mereka dapat disukai oleh penonton.

Kurt Russel sebagai Jimmy Harrel dan John Malkovich sebagai Vidrine mempunyai adegan yang sangat berbobot di mana mereka mengatakan semua apa yang dirasakan oleh karakter mereka tanpa harus mengatakan apapun. Damn.

Pada akhir film ada kecendurungan di mana para karakter menyalahkan satu sama lain, dan itu pas banget dan asli membawakan mereka secara manusiawi.

Cinematography & Scores

Genius. Filmmakers menggunakan Parallel Narative untuk membawakan cerita film ini sehingga menyusun satu per satu cerita sampingan dari para karakter yang dibawakan ke cerita utama: kecelakaan oil rig.

Memasangkan ARRI Alexa 65s dan Alexa XTs dengan Leica Summicron-C  dan Summilux-C lenses, Berg dan cinematographer Enrique Chediak menangkap kecelakaan tersebut dalam kamera, menaruh perhatian penuh pada visual / penggambaran cerita. Apalagi adegan ketika ledakan terjadi, ditangkap dengan indah dan sekaligus menegangkan.


Rating

Okay, setelah menonton tanpa popcorn, maka penulis memberi:

8.0 / 10

Sampai di sini dulu, kalo mau komen atau saran, silahkan saja.

Thanks for reading this, and always keep reading books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s