Thinkology: 10 Struktur Plot Film (Part 1)

Film-film dibuat bukan hanya asal jadi, ada banyak cara untuk membawakan cerita film untuk menjadi lebih menarik dan lebih bagus.

Naskah film membantu untuk membawakan ceritanya, hanya saja kebanyakan penulis bingung untuk menggunakan macam struktur plot apa yang cocok digunakan.

Note: terbagi menjadi 2 part karna biar enak dibaca, tidak terlihat panjang sekali.

Langsung saja, 10 struktur plot film yang digunakan para sutradara (kebanyakan sih).

#1 REGULAR ACTS
Ini adalah struktur plot film yang paling umum dan paling banyak digunakan. Sturktur ini menggunakan 3 babak.

Act one / babak 1 – setup
membangun karakter dan setting untuk membuat empati dan relasi dengan penonton.

Act two / babak 2 – confrontation
Ketika protagonis dan antagonis bertemu.

Act three / Babak 3 – resolution
Menyelesaikan cerita utama.

+ Tipe plot: Maju
+ Contoh: Die Hard (1988)

#2 MOMENTS
Pergerakan cerita dengan santai / casual / mengalir begitu saja dalam kumpulan momen di setiap adegan.

Triknya adalah tidak memilih momen mana yang penting karna setiap momen sudah menjadi penting.

Jika penulis menuliskan sebuah adegan berupa aksi sehingga membentuk momen.

Ciri-ciri untuk momen adalah momen memiliki keindahan, kesedehanaan, dan keseimbangan cerita untuk membangun sebuah adegan yang mudah diingat oleh penonton.

Tidak harus dengan dialog atau cinematography yang bagus untuk membuktikan bahwa sebuah adegan adalah momen. Hanya membutuhkan setting dan karakter yang tepat untuk membentuk semua itu.

Secara teknis, momen biasanya mudah dimengerti dan diketahui, tapi kebanyakan sutradara menggunakan slow motion untuk itu. Terlalu banyak sebenarnya. Saking banyak, sutradara salah persepsi, seperti yang dilakukan oleh sutradara Zack Snyder di film Batman v Superman: Dawn Of Justice (2016).

+ Tipe plot: Maju
+ Contoh yang bener: High Noon (1952), 300 (2006), Watchmen (2009)

#3 NON-LINEAR
Oke, yang satu ini jangan dicoba-coba kalo cerita yang dibuat belum begitu matang atau pasti. Karna satu ini digunakan pada cerita yang kompleks sehingga cerita menjadi paralel.

Intinya adalah cerita-cerita utama (tanpa ada cerita sampingan) ditampilkan dan bertabrakan satu sama lain tanpa mengganggu narasi. Sehingga terkesan tidak ada keanehan di mata penonton, hanya kehebatan dalam kompleksitas narasi yang menarik ditonton.

Cara paling umumnya adalah menampilkan adegan inti film di babak pertama dan menampilkan pembangunan karakter secara bersamaan. Kemudian bawakan cerita secara normal pada babak kedua, dan pada babak ketiga bisa digunakan lagi untuk menghubungkan maksud adegan inti film (dari babak satu tersebut).

+ Tipe plot: Maju & Mundur (Campuran), atau salah satu tipe
+ Contoh: The Godfather Part 2 (1974)

#4 HYPERLINK
Satu ini bukan soal membawakan cerita-cerita sampingan untuk dibangun ke cerita utama, tapi prinsipnya sama: setiap aksi ada reaksi.

Di sini setiap aksi pada adegan dibangun satu per satu, bagian per bagian, tanpa jeda. Kemudian ditarik ke adegan selanjutnya di mana efek dari aksi sebelumnya terjadi.

Hanya saja tidak berpacu pada aksi-reaksi, melainkan perpotongan dan perubahan cerita.

Bingung? Sama. LOL

Begini, anggap saja setiap aksi adalah sebuah individu, dan adegan adalah sebuah ruangan. Kumpulkan semua individu yang ada ke dalam ruangan itu. Biarkan mereka berantem di dalamnya.

Ketika membuka ruangan selanjutnya maka ambil individu yang selamat ke ruangan itu. Lakukan terus hingga narasi selesai.

Triknya adalah jangan sampai ada individu yang selamat lebih dari satu kali dan cara mereka berantem jangan sampai sama seperti sebelumnya, harus ada perubahan.

Hanya saja sisakan individu yang selamat untuk membentuk grup yang menjadi sebuah tujuan cerita film.

+ Tipe plot: Maju atau Mundur (salah satu saja)
+ Contoh: Ajami (2009)

#5 UNDERLYING
Prinsip kerjanya hampir sama dengan Non-Linear, hanya saja di Underlying tidak memainkan posisi adegan / karakter / setting pada runtime tertentu.

Di sini lebih diutamakan cerita film ke penonton di mana film “sadar” bahwa sedang ditonton oleh orang-orang.

Cerita film disampaikan dengan sederhana dan mudah ditangkap oleh penonton karna cerita disampaikan langsung. Seperti adegan pada suatu karakter ketika menunjukkan ke penonton bahwa suatu kejadian terjadi dan akan terjadi, tidak terhindarkan. Sehingga memberitahu penonton bahwa adegan itu akan terjadi suatu waktu di runtime film.

Bisa juga menggunakan karakter untuk langsung membicarakan adegan atau narasi dalam film dan semua cerita sampingan untuk membantu membangun cerita utama. Penjelasan eksplisit dari karakter terdengar klise, tapi sangat berguna ketika karakternya memang penting dan utama.

+ Tipe plot: Maju dan Mundur (Campuran)
+ Contoh: Citizen Kane (1941), Kiss Kiss Bang Bang (2005), Iron Man 3 (2013)

>>> Lanjut ke Thinkology: 10 Struktur Narasi Film (Part 2) <<<

 

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s