Thinkology: 10 Struktur Plot Film (Part 2)

>>> Klik jika belum melihat Part 1-nya <<<

#6 FLASHBACKS
Struktur plot ini lebih ditekankan pada waktu narasi. Maksudnya adalah pada runtime film ditunjukkan hanya narasi tertentu sehingga membentuk memori / kenangan. Boleh dikatakan, membentuk ingatan karakter, tapi diperlihatkan dari sudut pandang karakter tersebut. Maka dari itu, Flashbacks sangat berbeda dengan Non-Linear, Hyperlink, dan Underlying.

Flashbacks memberikan sensasi di mana penonton melihat langsung apa yang dirasakan dan dialami oleh karakter itu. Entah karakter itu memiliki sifat baik, jahat, pendendam, atau pelupa, tidak dipedulikan karna pada akhirnya narasi ini membentuk empati mendalam ke karakter.

Harus diingat bahwa struktur plot ini akan membingungkan penonton dan seolah-olah “menghancurkan” konsep waktu di dalam film, namun jika dilakukan dengan benar maka penonton tidak akan bingung.

Tidak harus berupa melodrama atau aksi ekstrim, yang penting penempatan narasi di runtime film. Sangat penting. Dan seperti namanya, tipe plotnya sudah bisa ditebak.

+ Tipe plot: Mundur saja
+ Contoh: Irreversible (2002) dan Memento (2000)

#7 FRAILTY
Frailty berarti kelemahan. Apakah narasi film ini lemah dalam arti negatif? Engga, bukan itu artinya.

Maksud dari struktur plot ini adalah jangan pernah berpikir bahwa struktur film ini penting karna hal itu engga penting sama sekali.

Terdengar paradoks? Iya, memang.

Struktur plot film di mana struktur itu sendiri tidak penting sebab yang penting di film ini adalah cerita (storyline). Bukankah struktur plot itu membawakan cerita? Iya, tapi bukan cara membawakan cerita yang penting, melainkan cerita itu sendiri.

Apakah itu berarti cinematography (pengambilan gambar), audio, setting, properti film tidak penting juga? Sepenuhnya tidak benar.

Begini deh, semua filmmaker, film student, dan cinephile di dunia ini punya persepsi sendiri-sendiri untuk membawakan struktur ini.
Ada yang memperlakukan film mereka seperti novel. Lihat Gone With The Wind (1939) dan The Third Man (1949).
Ada yang menaruh perhatian penuh pada kesederhanaan cerita sehingga sutradara menganggap genre filmnya satu dan penonton menganggapnya genre lain. Lihat Rear Window (1954) dan Lights Out (2016).

Lihat ada pola? Bagus, jadi semua itu adalah soal cerita film, bukan struktur plotnya.

+ Tipe plot: Maju
+ Contoh: Rashomon (1950), film ini adalah contoh yang terbaik yang penulis pernah lihat.

#8 CIRCULAR
Circular = bundar. Berarti struktur plot film itu bundaran?

Bukan.

Intinya adalah karma dari cerita karakter utama (protagonis) atau karakter lain yang memberi pengaruh besar sehingga mengeset semua unsur cerita film menjadi seperti apa mereka.

Semua itu dititikberatkan pada tindakan karakter.

Note: Struktur ini memang tidak dinamakan “karma” agar tidak disamakan dengan kata “karma” itu sendiri.

Sehingga jika ada yang memakai struktur ini tidak harus ambil pusing untuk cerita film dan tujuan cerita, tapi harus untuk tipe plot.

Cukup fokus pada tindakan karakter saja. Seolah-olah yang lain itu tidak dimasukkan ke cerita utama, hanya tindakan karakter yang memiliki pengaruh, yang bisa mengubah jalan cerita.

Maka dari itu, Circular (action-reaction / character-based) dan Hyperlink (intersecting-changing / story-based) menjadi berbeda.

+ Tipe plot: Maju dan Mundur (Campuran)
+ Contoh: Before The Rain (1994)

#9 TURN OVER
Struktur ini lebih cocok untuk film yang ceritanya punya kebenaran, semacam kebenaran dibalik misteri. Sehingga ketika diungkapkan di film, menjadi sebuah pembalikkan kebenaran, sebuah Turn Over. Cocok untuk genre film murni misteri, thriller, dan horror.

Menampilkan cerita film dengan cara yang khusus, seolah-olah film itu sendiri tahu untuk mempentingkan tema cerita, bukan plot cerita.

Sehingga struktur plot ini membawakan cerita film dengan memperlihatkan lingkungan cerita lebih penting, sekeliling itu lebih penting. Dengan begitu memberi cerita film punya “rasa” atau sensasi yang spesifik. Bisa dibilang karakter film tidak begitu penting, hanya semacam kebutuhan saja.

+ Tipe plot: Maju, atau Mundur, atau Maju dan Mundur (Campuran)
+ Contoh: The Nightmare On Elm Street (1984) – horror, The Sweet Hereafter (1997) – drama

#10 ASSOCIATION
Sebenarnya, penulis lebih suka namanya menjadi “Dream-To-Reality” karna pada visualnya struktur ini memiliki kesan sebuah mimpi. Bukan seperti film Inception (2010), melainkan kesan cerita, pengambilan gambar, karakter-karakter seolah-olah berasal dari alam dunia mimpi.

Digunakan kata “association” karna pembawaan cerita film yang menarik mental penonton dengan sebuah ide atau sesuatu. Contoh: ide “birokrasi” itu sendiri memberi ketidaknyamanan terhadap publik.

Cerita film tidak  terikat pada logika, tetapi emosi.

Pada dasarnya, film itu terdiri beberapa aspek / unsur cerita yang disampaikan secara keseluruhan.

+ Tipe plot: Maju atau Mundur (pilih salah satu)
+ Contoh: The Mirror (1975), penulis sangat menyarankan untuk menonton film ini.

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. broto says:

    daftar pustaka dr mana kak? ad buku yg bisa di shere hehe? saya sedang mempelajari plot, terimakasih tulisannya sangat bagus….

    Like

    1. hanifmskr says:

      Kalo tulisan ini dari hasil pengamatan dari film-film yang saya tonton. Tapi kalo mau mempelajari plot, desainnya & strukturnya, boleh dicek “Story” oleh Robert McKee dan “Anatomy of Story” oleh John Truby.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s