Review Doctor Strange (2016) | Cerita Terfokus Dengan Efek Visual Keren

Marvel Studio bisa bernapas lega setelah perjuangan beberapa dekade untuk membawa karakter Doctor Strange ke layar lebar akhirnya terbayar. So were the fans, too.

Doctor Strange disutradarai oleh Scott Derrickson (Sinister, Sinister 2, Deliver Us From Evil), dan dibintangi oleh Benedict Cumberbatch (Sherlock tv series), Chiwetel Ejiofor (12 Years of Slave), Tilda Swinton, Rachel McAdams dan Mads Mikkelsen. Fuih.

StoryLine

Film solo Marvel Studio ini berkisah tentang Stephen Strange… maaf, DOCTOR Stephen Strange yang mana dia adalah seorang dokter bedah saraf yang bertransisi menjadi penyihir mistik.

Strange memiliki ego besar dalam dirinya merasa unggul dari yang lain, alhasil membawanya ke kecelakaan mobil di mana membuat saraf tangannya tak berhenti bergetar. Dia berusaha menyembuhkan tangannya namun tak berhasil hingga menguras hartanya. Tapi sebuah kesempatan datang membawanya ke Kamar-Taj karna ingin menyembuhkan tangannya.

Ternyata dia terbawa ke dunia yang melebihi imajinasinya. Dibantu dengan The Ancient One (Tilda Swinton) dan Baron Mordo (Chiwetel Ejiofor) yang melatihnya di Kamar-Taj. Kemudian bertemu dan bermain dengan pustakawan, Wong (Benedict Wong), serta berhadapan dengan musuh Kaecilius (Mads Mikkelsen). Hingga berhadapan dengan *tiiiiit* [no spoiler please].

Cerita film ini bener-bener fokus pada Strange, karena memang ditujukan untuk para penonton yang belum menjadi fans Marvel. Ceritanya dibangun dengan bagus dan tidak terlalu monoton, sangat berpijak pada karakter Strange, dan film solo terbaik Marvel Studio, yang kedua itu Iron Man (2008). right?

Kita tahu semenjak The Avengers (2012), penggunaan humor di film-film Marvel selalu ada, dan ada yang terasa pas dan tidak. Di film ini terasa pas, terutama dari Strange dan Wong. Those were funny-ass scenes.

Sutradara Scott Derrickson memang sengaja tidak ingin membawa semua elemen dari komik Doctor Strange tahun 60an karna penonton tidak akan mengerti, sehingga dibuat elemen tertentu yang punya peran penting di film ini. Dan yang terpenting adalah memperkenalkan bahwa bukan hanya ada alien, dewa-dewi Asgard, dan quantum realm dari film Ant Man, namun ada banyak realita dan dimensi.

Film ini juga dibawakan dengan ringan, tanpa memberatkan penonton, walaupun dengan referensi yang hanya fans Marvel yang mengerti. Jadi cocok untuk ditonton semua orang. Unlike some movies which is too dark. DC *cough*

Untuk elemen sihir di film ini lebih sederhana dan tidak terlalu yang wah, sehingga tidak seekstrim seperti Enchantress di Suicide Squad (2016). uhuk. Sihir di film ini memainkan material dan benda-benda nyata serta energi, sehingga batasan sihir di film ini terlihat dan lebih masuk akal. Tidak seperti Echantress di Suicide Squad (2016). uhuk.

Characters

Seperti sudah tertulis, cerita film lebih terfokus pada Strange. Hidupnya, transisi hidupnya, dan bagaimana ketika dia menjadi seorang penyihir. Benedict Cumberbatch sangat bagus sekali memerankan karakter Strange. Memang tidak tepat *plek* seperti di komik, tapi sudah bagus untuk dibawakannya.

Chiwetel Ejiofor sebagai Baron Mordo sangat baguuuus. Lebih berbobot ceritanya dibanding dengan di komik, karna di komik terkesan disepelekan. Tilda Swinton, oh jatuh cinta dengannya karna pembawaannya atas The Ancient One sangat fresh / segar dan tidak terkesan dipaksa.

Sayang, untuk karakter Kaecilius (Mads Mikkelsen) dan Palmer (Rachel McAdams) tidak terlalu menonjol dan berbobot, seperti mereka adalah karakter yang hanya muncul sekali di sebuah episode tv series. Mungkin disengajakan karna alasan yang tertulis di atas.

Wong (Benedict Wong) juga diubah karakternya dalam konteks kepribadian dan background story, sehingga dia mengalir dengan tepat ketika berhadapan dengan karakter Strange dan yang lain.

Cinematography & Scores

Film ini lebih terkesan seperti sebuah “film” beneran, sebab film-film Marvel Studio dalam seri Marvel Cinematic Universe (MCU) memiliki cinematography yang biasa, kemudian boom! film ini menyajikan sebuah cinematography yang bagus, bukan baru dari seluruh film, hanya baru untuk MCU saja.

  1. Over-The-Shoulder shots lebih banyak ditampilkan ke karakter selain Doctor Strange, dan ketika shot-nya kembali ke Strange, full-framing dan close-up shot.
  2. Ketika ada efek visual untuk setiap dimensi memiliki perbedaan cahaya, animasi, dan fokus. Terlihat perbedaan highlight, disengajakan agar penonton tidak sulit membedakan.
  3. Shots ketika Doctor Strange menyadari perannya di dunia ini, shots beralih menjadi miniature shot ke Strange ketika berhadapan dengan *tiiiiit* [no spoiler please] dan kemudian beralih close-up shot ketika dia memiliki kemenangan di adegan itu.

Untuk score-nya dirasa pas ketika setiap adegan, ataupun tanpa, seperti di ruang bedah. LOL

Namun score untuk tema film dirasa kurang pas untuk membawakan karakter Doctor Strange. Kurang allegio atau overture, mungkin.


Rating

Okay, setelah menonton di 4DX 3D GCV Blitz (asli seru) maka penulis memberikan:

8.8 / 10

That’s all for now.

Thanks for reading this, and always keep reading books.

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s