Cara Buat Video Terlihat Film – Sinematografi (1/2)

 

Edisi Kill You Boredom kali ini membahas bagaimana cara supaya video kamu bisa terlihat seperti film. Caranya adalah memainkan tiga inti dari unsur film, yaitu:

  1. Sinematografi – Bagaimana pengambilan gambar dan pencahayaan terhadap subjek dan latar tempat.
  2. Setting – Mengatur tempat karakter (blocking), lokasi pengambilan video, properti, pakaian (kostum), dan detail-detail latar tempat. Direncanakan pada pra-produksi video.
  3. Editing – Mengedit video dari segi warna dan transisi video. Dilakukan pada pasca-produksi video.

Penulis mulai dengan unsur Sinematografi dulu karna lumayan banyak yang perlu kamu tahu.

Sinematografi memiliki banyak teknik pengambilan gambar (shot) dan pencahayaan (lighting), namun penulis ambil yang memungkinkan untuk diterapkan pada video (videografi) saja. Berikut adalah teknik-teknik sinematografi:

SHOTS

a. Low-Angle Shot
Pengambilan gambar ini dilakukan dari sudut bawah karakter sehingga lebih menekankan pada “siapa yang penonton harus fokus lihat”. Terlihat siapa yang memiliki masalah atau siapa yang akan membawa masalah pada cerita di video.

 

psiko-wmv_snapshot_00-30_2016-10-30_13-44-13
Gambar 1. Low-Angle

Biasanya low-angle akan memberikan nuansa dominansi karakter, tapi jika kamu memberikan pencahayaan yang tepat. Maka jika tidak ada dominansi dari karakter-karakter di video, buat pencahayaan yang rata pada semua karakter dan latar tempat.

Pada gambar 1 terlihat siapa yang memiliki masalah, ikutin garis merah dari sisi kiri-atas ke kanan-bawah.

b. Dutch Angle
Shot ini memberikan nuansa menegangkan, tak nyaman, dan misteri ke penonton. Sehingga lebih cocok digunakan pada genre video misteri, action, atau horror. Tapi harus diingat untuk tidak selalu menggunakan shot ini sebab juga mengakibatkan pusing kepala pada penonton dan juga editor video.

_mg_5268
Gambar 2. Dutch Angle

Shot ini menggunakan derajat miring sekitar 30 hingga 45 derajat. Lebih itu akan terlihat cameraman-nya sedang disorientasi.

Dutch Angle juga bisa memberikan nuansa tempat tapi dengan catatan bahwa tempat itu memang cocok untuk di-shot dengan dutch angle, sebab bisa saja shot tempat itu bisa menjadi lebih aneh daripada seharusnya.

c. Over-The-Shoulder
Shot ini dilakukan dengan menyentuh pundak karakter lain yang sedang berdialog dengan karakter yang sedang berbicara. Memang biasa dipakai ketika antar dua karakter atau lebih sedang berdialog atau berbicara.

Jadi siapa yang akan berbicara, itu lah yang di sebelah pundak tersebut. Kemudian ingat sisi pengambilan gambar, jika satu karakter diambil di sisi kanan maka lawan bicaranya di sisi kiri (harus berbeda).

psiko-wmv_snapshot_02-19_2016-10-30_14-09-36
Gambar 3. Over-The-Shoulder (kanan)
psiko-wmv_snapshot_01-24_2016-10-30_14-16-52
Gambar 4. Over-the-shoulder (kiri)

Dramatisasi pengambilan gambar akan lebih terlihat di sini. Ditujukan bahwa pendapat atau omongan karakter satu didengar oleh karakter yang lain.

d. Mixing Focal Length
Dilakukan dengan cara mendekatkan subjek dominan dengan lensa, dan menjauhkan subjek non-dominan jauh dari lensa. Sehingga terlihat posisi subjek tersebut di dalam cerita video.

img_1526
Gambar 5. Mixing Focal Length

Jika subjek dominan tidak fokus di lensa maka tidak masalah, karna kamu hanya ingin memberitahu ke penonton posisi subjek tersebut ketika frame video diambil.

e. One Point Perspective
Pengambilan dilakukan dengan mengambil satu titik pada kamera untuk menjadi semacam pacuan, sehingga semua subjek dalam gambar membentuk suatu bentuk tertentu yang ada titik beratnya. (Biasanya bentuk segitiga, paling gampang)

mvi_8558-mov_snapshot_00-01_2016-10-30_14-33-40
Gambar 6. One Point Perspective

Dengan begitu, penonton bisa melihat apa yang sedang terjadi dengan semua subjek dalam frame tersebut. Memudahkan mata penonton juga untuk melihat, tak banyak grak mata.

f. Symmetry Shot
Shot ini paling terkenal digunakan oleh sutradara Wes Anderson dalam karya filmnya seperti The Grand Budapest Hotel (2014), Moonrise Kingdom (2012), dan Fantastic Mr Fox (2009). Pengambilan shot ini lebih pada ratio gambar dan framing-nya. Ratio 1:1 dan framing semua subjek dalam satu tempat itu, begitu juga setting.

img_5456
Gambar 7. Symmetry Shot

Symmetry shot lumayan unik dan menarik kalo diterapkan, namun triknya adalah ratio dan framing tersebut dapat mencakup semua subjek dan apa cerita yang ingin dibawakan.

g. Frame Within Frame
Dimaksudkan apabila mengambil gambar subjek ternyata menemukan sebuah properti atau benda yang membentuk subjek tersebut ke dalam framing video.

img_2889
Gambar 8. Frame Within Frame

Terlihat dengan gambar 8 maka memfokuskan kita pada subjek karna ada frame di dalam frame.

Kamu lihat contohnya di film In The Mood For Love (2000).

h. Establishing Shot
Sebuah shot yang biasanya digunakan untuk memperlihatkan lokasi tempat kejadian sebuah adegan. Kamu harus mengambil gambar dari sudut tinggi atas, seperti di roof-top gedung, atau bisa menggunakan drone yang sedang populer saat ini.

sequence-02-mp4_snapshot_00-22_2016-10-30_14-57-17
Gambar 9. Establishing Shot

i. Close-up
Ini pasti kamu udah gak asing lagi. Mendekatkan lensa dengan subjek dengan syarat mata subjek jadi titik fokus lensa. Sehingga terlihat emosi subjek ketika framing sedang diambil.

img_5143
Gambar 10. Close-up

j. Detail Shot
Jangan lupakan detail shot sebab ini juga penting karna tak selamanya kamu akan mengambil gambar wajah subjek terus-menerus. Perlihatkan bagaimana sekeliling subjek atau apa yang sedang dilakukan subjek.

psiko-wmv_snapshot_07-59_2016-10-30_16-41-41psiko-wmv_snapshot_08-21_2016-10-30_16-41-01

LIGHTING

a. One-Source Spot
Jika kalian ingin bayangan (shadow) pada suatu frame lebih banyak, bukan berarti menghilangkan pencahayaan di lokasi, namun manipulasi dengan props, atau peralatan kamera.

Pencahayaan tetap ada, namun pastikan bahwa ada satu sumber cahaya yang kuat datang ke subjek. Terserah dari mana, yang penting sumber tersebut langsung mengenai subjek. Kemudian arahkan cahaya tersebut bisa dengan kain putih agar tidak terlalu tajam pantulan ke kulit subjek.

_mg_5692
Gambar 11. One Source Spot

Atau bisa juga langsung memainkan dengan cahaya alami matahari, dan gunakan Spot Metering pada kamera digital kamu. Seperti gambar 11 di atas.

b. On-Location
Pencahayaan yang biasanya dari lokasi sendiri, bukan cahaya alami matahari, namun cahaya lampu lokasi. Bisa saja menggunakan itu, namun harus berhati-hati terhadap kontras dan sudut pengambilan gambar.

img_2905

mvi_2406-mov_snapshot_00-06_2016-10-30_16-54-04

Jika di outdoor ketika malam, bisa memainkan shutter speed dan aperture, usahakan tidak mengubah-ubah ISO agar tetap ada kestabilan grain (titik-titik putih) di frame.

c. Direct Sunlight
Memang enak kalo menggunakan cahaya alami matahari, apalagi gak perlu set pencahayaan lampu dan segalanya. Tapi harus hati-hati agar tidak mematikan subjek dengan warna sekitarnya. Karna jika langsung kena cahaya matahari biasanya warna akan menjadi terang keputihan. Jadi mainkan sudut pengambilan gambar dan siapkan payung / kain / peneduh dari cahaya tersebut agar tidak terlalu tajam.

img_9889


Oke, itu dulu dari segi Sinematografi.

Silahkan komen, saran, tanggap jika menurut kamu kalo penulis ada kekurangan nulis atau ada salah denganmu. (lho…)

Thank you for reading this.

>>>Artikel selanjutnya yaitu Setting & Editing (2/2)<<<

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s