Cara Buat Video Terlihat Film – Setting & Editing (2/2)

 

Pada Kill Your Boredom ini melanjutkan dari Cara Buat Video Terlihat Film bagian kedua, yakni Setting dan Editing.

>>>Klik sini jika belum membaca Sinematografi (1/2)<<<

Setting terbagi menjadi pengaturan pergerakan subjek di frame, tempat lokasi, properti lokasi, pakaian (kostum), dan sebagainya.

Editing terbagi menjadi Color Correction & Grading, dan Transition.

SETTING

a. Blocking
Blocking atau pergerakan subjek di frame ketika adegan sedang direkam, terlihat bagaimana memposisikan karakter-karakter yang ada di video. Sehingga mencocokkan dengan situasi dan kepribadian karakter-karakter yang di frame tersebut.

psiko-wmv_snapshot_06-37_2016-10-30_15-54-16
Gambar 1. Blocking (1)

Lihat gambar 1, pada gambar di atas terlihat bahwa ada jarak antar karakter. Jarak itu bukan hanya menandakan jarak fisik, tapi juga jarak perbedaan karakter dan kepribadian. Mereka saling mengisolasi masing-masing dari karakter lawan. Apalagi isolasi tersebut ditambah dengan properti meja, sehingga seolah-olah ada jarak jauh di antara mereka.

psiko-wmv_snapshot_12-23_2016-10-30_16-01-23
Gambar 2. Blocking (2)

Kemudian lihat gambar 2, pada penanda nomor:

  1. Bahwa kedua subjek menunjukkan ketertarikan. Keduanya membungkuk untuk seolah-olah mendekati satu sama lain.
  2. Gestur (bahasa tubuh) pada tangan menunjukkan kesamaan, yakni saling menyilangkan lengan di atas paha. Sedangkan satu tangan lain sedang melakukan sesuatu.
  3. Menunjukkan kesamaan pemahaman dalam obrolan / dialog antar karakter sehingga menciptakan atmosfer yang nyaman. Apalagi mereka juga tersenyum.

Semua blocking bisa menjelaskan situasi dan kondisi yang sedang terjadi pada suatu adegan di video sehingga terlihat ada penekanan dari pengarahan sutradara.

Blocking bukan cuma itu saja, bisa dilakukan dengan subjek berjalan di sekeliling ruangan sambil berbicara. Bisa kamu lihat contoh di film Vertigo (1958) ketika protagonis (Scottie) dan antagonis (Gavin) bertemu untuk membicarakan suatu masalah di ruang kantor Gavin. That was great directing from Alfred Hitchcock.

b. Lokasi
Untuk lokasi, bisa ditentukan sesuai apa yang diinginkan, tapi ingat sesuaikan dengan dialog / naskah video kamu.

Pada gambar 1 dan 2 menunjukkan masalah kedua karakter tersebut bisa dilakukan hanya mengobrol di sebuah kafe. Maka diatur lokasi tersebut agar menyesuaikan dengan karakter yang ada.

psiko-wmv_snapshot_01-22_2016-10-30_16-25-09psiko-wmv_snapshot_00-57_2016-10-30_16-25-02

Jangan tampilkan banyak kejadian di latar tempat yang dapat mengganggu fokus penonton video, seperti jika ada orang terjatuh di background. Walaupun blurred (kabur) gambar background-nya, tetap saja bisa mengacaukan frame adegan yang sedang direkam.

c. Props dan Pakaian (Kostum)
Jangan tampilkan banyak props (properti) di lokasi. Cukup yang memberikan suasana seperti kafe, atau hanya tampilkan saja seadanya. Penting untuk menjaga properti tidak mengganggu subjek dan background ketika frame sedang direkam.

Pakaian juga bisa memberikan petunjuk mengenai karakter yang sedang berada di frame tersebut.

psiko-wmv_snapshot_00-32_2016-10-30_16-25-47
Gambar 3. Warna Pakaian

Lihat gambar 3, menunjukkan ada perbedaan bahwa warna pakaian juga menunjukkan kepribadian karakter pada adegan di frame itu.

Warna cerah untuk karakter yang menunjukkan karakter easy-going, periang, dan bercanda, serta sebaliknya dengan warna gelap bisa menunjukkan karakter kaku, keras kepala, dan berpendirian teguh.

Atau jika berpakaian lapis banyak berarti menunjukkan kesukaan pada kompleksitas, sebaliknya jika sedikit lapis pakaian maka menunjukkan karakter sederhana dan menilai waktu dengan baik.

EDITING

Penulis tidak akan menjelaskan secara teknis, karna hal itu bisa dipelajari di situs lain atau video-video Youtube. Di sini lebih diarahkan pada ide dan konsep Editing untuk membuat video terlihat film.

a. Color Correction & Color Grading
Membenarkan warna (Color Correction) sebenarnya tidaklah ribet dan sulit, karna hanya kita lihat dari video original dan mengambil warna tersebut bisa dipertajam, dinaikkan saturation level dan vibrate-nya. Atau hanya ingin mengambil warna dasar atau komplimenter saja, juga tak masalah. Tapi harus diingat bahwa bagaimana kamu ingin menyampaikan adegan di frame tertentu ke penonton sehingga mereka tertarik secara emosional dengan karakter di video.

Jika memang karakter digambarkan periang atau ramah, gunakan warna komplimenter yang cerah atau hangat, ke spektrum warna yang lebih cerah. Merah, hijau, kuning, jingga, dan sebagainya. Sebaliknya, gunakan biru, ungun, magenta, aqua, cokelat, dsb ketika karakter bersifat moody, sedih, dan jahat.

Untuk Color Grading, lebih mengarah pada bagaimana video ini tetap terlihat stabil sepanjang pemutaran. Karna stabil atau konsistensi dalam warna tersebut akan meningkatkan bobot cerita utama.

Contoh gambar di atas ini diperlihatkan dengan Color Correction yang hanya menggunakan warna biru, hijau, dan aqua. Sehingga jika mengubah highlight, shadow, dan saturation diperhatikan warna-warna tersebut. Color grading membawa gambar di bawah ke arah “dingin” (nilai temperature diturunkan) karna permasalahan di cerita utama memiliki emosi kesedihan dan kekecewaan. Maka menggunakan warna-warna tersebut dan ke arah yang lebih “dingin”, cahaya yang soft, dan menaikkan shadow, dan menurunkan highlight.

 

b. Transition
Transisi adegan yang sama dengan beberapa potongan video diharuskan memiliki kestabilan dalam pembawakan dialog dan karakter ketika membawakan suatu perbincangan penting ke dialog.

  1. Soft Transition
    Hindari hard-cut yang mana berarti tiba-tiba beralih tanpa sebab ketika karakter membawakan masalah langsung tiba-tiba ke layar. Gunakan transisi dari wajah karakter lain yang mendengarkan atau background belakang karakter satu sehingga tampak lebih halus dan tidak memaksakan mata penonton untuk tiba-tiba kaget. (bisa kena buta sementara malah)
  2. Hard-Cut
    Lebih diarahkan ketika ada perbedaan gaya pengambilan gambar, jika memang itu kasusnya maka gunakan peralihan hard-cut. Tak masalah kok.
  3. To-Event Transition
    Ketika karakter atau narasi membawakan suatu hal dalam cerita, bisa gunakan transisi ini agar penonton mengerti apa yang dibicarakan. Terkadang bisa saja adegan sama, namun pengambilan gambar beda. Atau adegan berbeda, pengambilan gambar sama atau beda. Tergantung cara penyutradaraan kamu.

Oke terima kasih sudah membaca ini.

Jika ingin komen dan kritik, silahkan saja. Bebas, tapi TANPA SARA.

Don’t forget to always keep reading books.

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s