4 Kesalahan Fantastic Beast and Where to Find Them (SPOILERS)

Tidak ada film yang sempurna, semua pasti melakukan kesalahan, walaupun satu detail saja.

Fantastic Beast and Where to Find Them tidak luput dari kesalahan. Apa saja? Sebelumnya penulis harus kasi tahu bahwa artikel ini penuh spoilers. Kalo ingin lihat review non spoilers-nya, silahkan klik di sini.

SPOILERS—-SPOILERS——SPOILERS——SPOILERS—-SPOILERS

I’ve warned you, asshat.

Oke, langsung saja: 4 Kesalahan Fantastic Beast and Where to Find Them.

mv5bmzg1ytvmntctnguyzs00yziylwi2yjktmgnintm0ztnmntmzxkeyxkfqcgdeqxvynti4mda1mzi-_v1_

  1. Characters Involvement and Minor Detail

    Keterlibatan karakter di film pada dasarnya bisa dilakukan dengan tiga hal:
    1) Cause and Effect – Tindakan karakter mengakibatkan karakter satu bertemu dengan karakter lain, dan mereka masuk dalam cerita secara masuk akal dan jelas.

    2) Story Driven – Berpacu pada cerita karakter, backstory mereka sehingga ada keterlibatan yang tidak dapat dilepaskan begitu saja karna sudah dibawakan ke dalam cerita dari awal film diputar.

    3) Coincidental Approach – Cara ini berarti para karakter bertemu secara kebetulan dengan syarat harus dilakukan dengan karakter dan setting yang tepat. Film ini menggunakan cara ini dengan tidak tepat. Penulis memberi contohnya di bawah ini.

    Contoh yang benar:
    Dalam film Deadpool (2016), Wade dan Vanessa bertemu di bar mercenaries penuh dengan orang-orang kelas bawah yang punya label “hardcore”. Wade adalah seorang bayaran untuk melakukan pekerjaan “kotor”. Vanessa adalah seorang PSK. Mereka ngobrol-ngobrol, dan boom! tahu sendiri lah.

    Film ini, contoh yang salah:
    Tina dan Newt bertemu di kumpulan para demonstran Salem Kedua dengan tidak sengaja menubruk, dan Tina menaruh perhatian pada Newt. Bukan pandangan pertama, hanya penasaran.
    Kemudian, dilanjutkan dengan Tina meliriknya di dalam bank dengan mengetahui bahwa Newt seorang wizard.
    Lalu di luar bank, Tina melihat lagi Newt dengan seorang No-Maj, Jacob. Setelah itu, mereka berjalan biasa seolah-olah tidak mengenal, dan puff-zoom pindah tempat ke sebuah tempat sempit.
    Tina tidak segera menjelaskan siapa dirinya, dan menganggap Newt seorang pelanggar Pasal 3A.(penulis lupa)

    Kamu mengerti, kan? Terlalu banyak setting telah berganti tanpa interaksi, tapi tetap menunjukkan ketertarikan karakter akan membuat ketidakseimbangan pentingnya karakter sampai mereka berinteraksi. Karna di dalam adegan itu, penonton dikenalkan karakter Jacob Kowalski. Membuat fokus ke beberapa karakter dan berpikir “mana oh yang mana yang penting?”

    Lagipula ngapain juga Tina berdiri di demonstran Salem Kedua, ini seperti dia memata-matai si ibu kejam setelah apa yang dia lakukan ke dia untuk menyelamatkan Credence.

    Tina juga hanya diam melihat saja ketika Jacob berusaha kabur dari Newt tanpa berusaha me-obliviate Jacob. wth?

     

    BTW gimana keadaan si bankir yang dibekukan oleh Newt? Kan tidak dilaporkan oleh Tina ke MACUSA, tidak juga diperhatikan lagi setelah Newt dan Jacob keluar dari bank. Asli aneh kontinuitas film ini.

  2. Predictable As Ever

    Untuk mengeset pemikiran yang sepaham, pembuat film dan penonton harus dalam kursi yang sama sehingga jika ada referensi muncul, pembuat film menampilkan dan penonton dengan segera mengerti.

    Film ini sudah cukup bagus, namun ada beberapa yang terlalu jelas sehingga cerita film mudah ditebak, dan ada yang menjadi membosankan karna gaya pembawaan cerita yang sudah ada di Harry Potter, dibawakan lagi.

    Penulis menamakan dua adegan saja, biar kamu tidak merasa down untuk menonton film ini.

    mv5bndfhzmrmyjktnzi4ms00ytqxlthhmdatnji2odmwnzc4otu1xkeyxkfqcgdeqxvynti4mda1mzi-_v1_sy1000_cr007121000_al_

    Satu: Ketika Newt berunding dengan Gnarlack untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan salah satu beast-nya. Ketika perundingan selesai, ternyata Gnarlack sebelumnya menghubungi MACUSA mengenai keberadaan Newt dan Tina. Dan terjadi pertarungan tongkat sihir.

    Terlihat banget bahwa formula adegan itu udah dipakai dalam Deathly Hallows Part 2 di mana Harry berunding dengan goblin untuk mendapatkan satu hocrux di dalam brankas bank. Sehingga dinamika dan sensasi adegan dirasa monoton dan biasa.

    BTW penulis bingung, ketika para auror muncul  di bar, sebenarnya mereka coba serang siapa sih: para pelanggan, atau Tina dan Newt?

    mv5bztc3ywiynjytmzcwys00mzhlltg5owitodkwy2exn2ziywixxkeyxkfqcgdeqxvynti4mda1mzi-_v1_sx673_cr00673999_al_Dua: Ketika adegan pada babak tiga di mana karakter Percival Graves di-Revelio oleh Newt, dan menunjukkan jati diri aslinya setelah dikalahkan. Ternyata Graves adalah Gellert Grindelwald, dark wizard yang diperankan oleh Johnny Depp.

    Pertarungannya terlalu simple dan biasa, tidak tampak perjuangan yang signifikan / menonjol sehingga penonton merasakan dinamika adegan itu sangat penting dan berbobot. Tapi tidak begitu. Malah adegan itu dibawakan dengan biasa, seolah-olah pembuat film tidak ingin banget membuat film ini.

    Masih ingat film pertama Harry Potter, adegan ketika ingin mengungkapkan siapa pelaku dan ternyata si Professor Kepala-Botak-Pemakai-Turban yang menggunakan dirinya sebagai host untuk You-Know-Who. Adegan itu pas sekali, karna dari segi cerita sangat pintar dibawakan sehingga menjadi masuk akal dan bagus. Tidak untuk di Fantastic Beast.

  3. Too Much Hints, No Time to Explain

    Hmmm oke penulis mengerti, ini adalah dunianya J.K. Rowling di mana backstory setiap karakter menjadi kerumitan mengapa film ini terlalu banyak memberik hints / petunjuk-petunjuk untuk karakter lain, tapi tidak banyak dijelaskan, ataupun menjelaskan kenapa mereka penting.

    Tapi harus diingat bahwa ini adalah film, bukan buku. Film ini memang yang menulis screenplay-nya adalah JK Rowling sendiri, dan telah menulis dengan bagus.

    Namun sepertinya dia telah salah tanggap bahwa film adalah di mana penonton tidak bisa membalik reel film ke operator bioskop, meminta untuk mengulang adegan sebelumnya. Tidak seperti buku, pembaca bisa membalik halaman jika belum mengerti apa yang sedang difokuskan pada cerita tersebut.

    Film ini juga menunjukkan sub-plot yang banyak di awal, namun tidak dengan cerdas dibawakan untuk mempersiapkan cerita utama ke babak tiga / akhir. Walaupun babak tersebut sudah bagus.

  4. The Cinematography is So-So

    Harus diingat bahwa film ini R-Rated, bukan PG-13. Juga, ini sebuah film yang berbeda dari Harry Potter karna “it’s much more grown-up“, begitu keterangan dari sutradara David Yates. Lalu kenapa film ini membawakan narasi awal seolah-olah kita ditampilkan film Harry Potter dengan menggunakan koran-koran New York Ghost.

    Lalu ada beberapa adegan yang menunjukkan adegan-adegan aksi yang lumayan mencekam, namun masih dirasa PG-13 bukan R-Rated. Oh c’mon.

    mv5bzmrkntu4yjmtnwyyns00ntqzltk0zmutytzlowe0mty0mti2xkeyxkfqcgdeqxvynti4mda1mzi-_v1_Sinematografi di awal film menunjukkan bahwa akan ada perbedaan mencolok sekali, dengan camera movement yang berbeda dan narasi cerita yang baru. Menggunakan pengambilan gambar tracking tilt, Dutch angle-tilt + panning to right, dan mixing focal length.
    Namun tidak dibawakan secara konsisten. Tidak hingga akhir film.

    Ada adegan ketika Grindelwald digiring keluar oleh auror, dan dia mencoba bicara dengan Newt. Oh ya ampun, terasa dipaksakan, seolah-olah adegan itu harus ada. Dan kelihatan kalo mereka ngobrol di ruangan green screen, belum halus editannya tuh.

    Atau lebih tepatnya, Johnny Depp tidak satu tempat dengan Eddie Redmayne, maka di belakang Depp terlihat green screen, dan ketika Depp berbalik berjalan keluar, tidak diperlihatkan mukanya karna itu adalah figuran penggantinya.
    Hmmm oke…penulis bingung sekarang.


Terima kasih udah membaca artikel ini.

Silahkan komen, kritik, dan saran.

As always, keep reading books, guys.

Advertisements

11 Comments Add yours

  1. Rats says:

    Kayak yang bisa bae lu bikin Film sebagus ini. Jalan ceritanya dan imajinasinya J.K Rowling ga ada yang nyamain sama Film2 lain. Emang ada gitu Film kayak begini selain ciptaan J.K Rowling?
    Ga usah sotoys deh.

    Like

    1. hanifmskr says:

      Jika yang dimaksud “film kayak begini” adalah film berplot paralel, maka contoh yang bagusnya adalah: Pulp Fiction, Forrest Gump, Goodfellas, The Usual Suspects, American History X, The Departed, The Prestige, Dr Strangelove, Django Unchained, American Beauty, dan lainnya yang cukup banyak.

      Like

  2. Devin says:

    Gak kepikiran sih sama bankir itu waktu selesai nonton, setelah baca ini baru kepikiran hahaha. Menurut saya film ini konfliknya kurang greget, mungkin karna terlalu byk konflik jd kurang terfokus, entah sih itu pendapat saya terkesan biasa aja gak kaget kalo ternyata ezra yg ngendaliin itu (lupa namanya itu apa) tapi filmnya cukup menghibur dengan tokoh Mr.Kowalski. Kalo ada sequel saya tetep nanti2 kan sih karna penasaran siapa sih lita/lina Lestrange yg fotonya ada di koper Newt itu? Penasaran bgt parah. Maaf commentnya jadi panjang.

    Like

    1. hanifmskr says:

      Memang kurang greget kok hehe, dan setuju memang klo mr kowalski menghibur, jadi filmnya ada rasa humor lah.
      Klo dari nama belakang “Lestrange”, sepertinya dia terhubung dengan Bellatrix Lestrange.

      Like

  3. dsprayogo says:

    So, kesalahannya jadi ada 4 atau 5 nih? Hehe. Terlalu bersemangat, jadi salah tik di paragraf ke-5.

    Anyway, good review. Meski saya berpendapat lain dan positif menunggu sesi “besar” selanjutnya antara Newt dan Grindelwald 🙂

    Like

    1. hanifmskr says:

      makasih udah dikasi tahu, yang bener 4 🙂

      Like

  4. ferdhy says:

    satu pikiran yg tina tbtb penasaran sm newt pdhl newt blm ngapa2in
    trs sama yg bankir ((or banker?)) yg beku & bankir2 lainnya yg ngeliat newt ber-apparate
    dan tbh, gue aja masi kurang faham sm ceritanya:( krn emg sampe setengah dr film itu blm terlalu jelas gt. beruntung nonton versi 3D, jadi effect visualnya kerasa even though ceritanya ga ngerti😂
    hrs bgt beli novel yg versi movie screenplaynya deh kayanya
    atau nonton ulang

    Like

  5. icka says:

    Ralat dikit, Graves bukan di – “Accio” tapi “Revelio”. Kalo “Accio” mah mantra untuk supaya barang2 mendatangi kita..

    Like

    1. hanifmskr says:

      makasih ralat nya, ini udah saya ubah

      Like

  6. Cupy says:

    Menurut saya film ini good lah.

    Ya, so. Kalo mau lebih jelas lagi. Mendingan baca buku novel nya ketimbang film nya. dari jaman film Harry Potter juga lebih nikmat baca buku novel nya. Jauh lebih luas ceritanya. Yaah u know lah ya. hehee

    Btw, Review nya keren sangat teliti. Saya Apresiasi.

    Thanks.

    Like

  7. Davin says:

    Baju newt berubah2 Pada saat newt dan kowolski ke dalam koper, kayaknya sutradaranya lupa ngecek wkwkwkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s