Review Fantastic Beast and Where to Find Them (2016) | Film Bagus yang Kehilangan Inti Cerita

So, J.K. Rowling punya ide untuk memfilmkan sebuah spin-off dari Harry Potter series ke Warner Bros Studio setelah Harry Potter and Deathly Hallows Part 2 (2011) dirilis. Ide yang ingin dibawakannya adalah sebuah buku teks Fantastic Beast and Where to Find Them yang muncul di novel Harry Potter and The Philosopher’s Stone di mana buku teks tersebut sudah dicetak nyata dengan judul yang sama. (my goodness, textbook into a movie, huh?)

Fantastic Beast and Where to Find Them disutradarai oleh David Yates, dan dibintangi oleh Eddie Redmayne (Theory of Everything), Ezra Miller (Justice League Part 1), Katherine Waterston, dan Colin Farrell (Phone Booth, In Bruges).

StoryLine

Berkisah tentang seorang magizoologist bernama Newt Scamander yang pergi ke New York untuk berkelana dengan tujuan menyelamatkan salah satu beast ke alam liar. Di sana ternyata dia ter-stumble atau dengan tidak sengaja terlibat masalah yang mengakibatkan beast di dalam kopernya berkeliaran di kota. Sehingga dia dan teman-teman barunya harus mengumpulkan beast tersebut satu per satu.

Tapi…ternyata ada plot lain yang berjalan paralel dengan itu. Rupanya ada makhluk lain yang meneror kota New York dalam ketakutan, dan Scamander dituduh sebagai dalang pelakunya.

Cerita film dapat dikatakan lumayan menarik dengan plot paralel yang cukup menantang untuk dibawakan, namun tidak begitu berhasil 100% dibawakan dengan baik. “Bumbu-bumbu” film seperti sihir yang sangat kental berasa dari Harry Potter series juga bermunculan sehingga ada kesan familiar. I like that. Efek visual, CGI, dan beberapa detail sihir yang sudah cukup bagus.

Struktur plot Circular (klik di sini untuk mengetahui) film ini memang pantas karna cerita dan masalah-masalah yang ada terjadi karna tindakan para karakter, dan secara dasar sudah cukup bagus, hanya saja seperti ada kekurangan dalam inti ceritanya. Cerita film ini, khususnya di pertengahan film, terkesan dipaksakan seolah-olah menjelaskan mengapa karakter itu ada, dan kenapa masih ada sampai ending.

Babak satu (setup) dan dua (confrontation) film ini cukup membosankan karna penonton dibawa dengan keliru atas cerita adegan-adegan awal yang nantinya bukan menjadi fokus film, dan cerita yang terkesan seperti “kalo terjadi, so what gitu lho?” sehingga cerita menjadi mudah ditebak dan terasa hambar.

Babak ketiga (resolution) film ini tiba-tiba memucak secara dinamis di mana kumpulan cerita-cerita dari para karakter berkumpul dan menjadi satu sehingga lebih masuk akal, dan sedikit emosional. Film ini diselamatkan oleh babak ketiga, ketika para penonton kebosanan lebih dahulu. Untungnya ada comic relief dari aktor Dan Fogler sebagai Jacob Kowalski.

Characters

Eddie Redmayne sebagai Scamander sudah bagus sekali, kelihatan sepertinya dia sudah mempersiapkan karakter dengan baik. Dan Fogler, man you’re such a sugar coat in this movie, menjadi “bumbu perasa” yang menarik, dan karakter yang lucu dan emosional.

Colin Farrell memberikan nuansa karakter yang 180 derajat berbeda dengan karakter-karakter lain, dan dia dapat mengeksekusi dengan baik aktingnya dalam memperlihatkan antagonis yang cukup menarik.

Beberapa karakter dukungan cukup bagus untuk mendorong cerita maju dengan tepat, walaupun film berjalan dengan fase yang belum tepat. Lainnya tampak penting dibawakan di film ketika babak satu dan dua, namun ketika di babak tiga semua itu menjadi tidak terlalu menonjol, dan penonton bisa merasakan kecewa karna kesia-siaan memunculkan karakter tersebut ke layar.

Cinematography & Scores

Pertama, suara di film ini bagus banget dalam hal mixing, mendramatisasi adegan, dan relasi emosional. Suara ini bukan dimaksudkan musik, namun suara / audio.

Kedua, sinematografi jelas berbeda sedikit dengan Harry Potter series karna ada teknis dan transisi pengambilan gambar karakter untuk adegan berbeda dalam satu setting. Terkesan steady, pas, dan fluid. Untuk jenis-jenis shots, hampir sama dengan empat film terakhir Harry Potter.

Ketiga, ada CGI yang terkesan aneh karna tidak begitu bagus, mungkin masih kurang edit. Anggap saja okay lah.


Rating

Setelah menonton sambil menahan mata untuk tidak tertutup karna rasa kantuk, maka penulis memberikan nilai:

7.0 / 10

Sorry, Harry Potter fans. Not really tho.

Oke, itu dulu. Silahkan komen, saran, dan kritik tanpa SARA.

Terima kasih udah membaca ini, dan nantikan artikel My Review selanjutnya.

As always, keep reading books.

 

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. dani says:

    *spoiler alert for the comment:
    Menurut saya ini malah bagus Mas filmnya. Sebuah prolog yang segar untuk pengantar Harry Potter series. Dan saya melihat begitu banyak potensi dari film ini termasuk dari twist di akhir film. Setelah baca lebih lanjut ternyata memang direncanakan awal dari 5 film. Menjelaskan kenapa seolah inti filmmya gak nyambung sama openingnya. 😀

    Like

  2. Deby says:

    Kalo utk saya sih mas sebagai fanatiknya harry potter series, film ini jempolan. Saya sudah lahap semua buku dan film harry potter, dan buku fantastic beast sudah sy baca berkali2. Jadi menakjubkan bagaimana hewan2 yg digambarkan di buku dijadikan nyata di film.
    Mungkin amatiran saya kalo menilai dari sudut pandang pengambilan gambar ato apalah itu, hehe, tapi utk keseluruhan film ini benar2 memuaskan saya. Malahan banyak teka teki yg membuat penasaran hingga tidak aabar menunggu film2 berikutnya.
    Dan, saya tidak merasa ngantuk utk nonton filmya kok, utk saya film ini ratingnya 10 😁😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s