Review Allied (2016) | Cerita Old-Fashioned Dibuat dengan Bagus dan Bergaya

Saat nonton ini, penulis merasa ada kesamaan nuansa film dengan Casablanca (1942) dan beberapa film klasik Alfred Hitchcock. Dikarenakan cerita film ini dibawakan hampir memiliki gaya penceritaan dan inti cerita yang familiar dengan film-film tersebut. Oh, I miss the good ol’ days where movies have no sequels and remakes.

Allied disutradarai oleh  Robert Zemeckis (Forrest Gump, Back To The Future Trilogy), dibintangi oleh Brad PittMarion Cotillard, Jared Harris (Sherlock Holmes: A Game of Shadows, Lincoln), Lizzy Caplan (Now You See Me 2), dan Matthew Goode (Watchmen, The Imitation Game).

StoryLine

Berkisah tentang seorang agen Kanada Max Vatan (Brad Pitt), dan seorang French Resistance Marianne Beausejour (Marion Cotillard) yang keduanya memiliki misi untuk membunuh seorang anggota penting partai Nazi di Morroco pada tahun 1942. Oh Casablanca-vibe there. Tentu saja, mereka berpura-pura menjadi suami-istri untuk menjaga identitas asli.

Inglorious Basterds (2009), Fury (2014), Allied (2016)?
What’s up with Brad Pitt and WW2 movies anyway?

Setelah mereka melaksanakan misi tersebut, mereka jatuh cinta, menikah, dan kemudian pindah ke London untuk hidup normal selayaknya pasangan lain. Namun Max dihadapkan pada situasi di mana dia mendapat laporan bahwa istrinya, Marianne, adalah seorang double-agent. Sehingga Max dijatuhkan pada pilihan apakah istrinya seorang double-agent atau bukan, jika iya maka Max harus mengeksekusi istrinya sendiri.

Pertama kali lihat trailer film ini, penulis mengira ini adalah film mata-mata (spy) yang bakal ketebak cerita dan gayanya. Karna film spy gak akan jauh-jauh dari genre yang tipikal, seperti stylish-drama (James Bond movies), raw-action (Bourne pentalogy), dan plot twist (Tinker Tailor Soldier Spy).

Film ini mengambil porsi kecil dari setiap genre tipikal tersebut dan dikemas dalam romansa dan dilema. Film ini jelas sekali memainkan sudut romansa sejak awal film diputar, sehingga penulis awalnya agak ragu apakah film ini membosankan atau tidak. Tidak sama sekali, hanya saja film ini memiliki dua sisi yang ditawarkan ke penonton.

Sisi pertama film ini membawakan nuansa perang sehingga memiliki cerita berfokus pada action-spy, kemudian sisi kedua menampilkan drama-dilema di mana cerita berfokus pada karakter Max Vatan dan pemikirannya mengenai apakah istrinya seorang double-agent atau bukan. Di antara kedua sisi itu, pertengahan film ditampilkan sequence di London yang mungkin dirasa agak melambatkan jalan cerita.

Film ini sayangnya tidak menggali lebih dalam cerita yang disajikan sehingga jika ditonton akan terasa biasa saja ceritanya, walaupun ada beberapa kemenarikan dalam “bumbu-bumbu” cerita. Hanya pembawaan film ini yang bener-bener menarik dan menyelamatkan penonton dari kebosanan.

Characters

I’ve got to say, Marion Cotillard, in this movie, is so damn good. Dia bener-bener mendalami karakternya dengan cerdas dan asli bagus. Dia bisa memainkan semacam gestur, tindakan, dan senyuman yang memberikan karakternya sebuah persona yang menarik sekali. Aktingnya asli keren, kecuali ketika dia main sebagai Talia Al Ghul pas adegan matinya di Dark Knight Rises (2012). Yeah, just no.

“I keep the emotions real.” -Marianne

Brad Pitt did an impressive job, dia bisa membawakan karakter seorang suami yang penyayang dan menyembunyikan dilema depresi terkait laporan double-agent istrinya.

Cinematography & Scores

Bagaimana film ini menampilkan era 1942 masa kependudukan Prancis di Morroco harus diacungi jempol. Karna jelas-jelas penonton bisa merasakannya ketika ditampilkan dengan cinematic, old-fashioned, dan artistik, terasa seperti melihat film-film noir. Juga ditampilkan dengan kesan autentik dengan gaya sutradara Zemeckis.

Tapi, ada satu tracking shot yang dirasa seperti mengulur jalan film sehingga terkesan membosankan dan seperti penonton merasa “kenapa gak dipendekkan shots-nya?”

Dan bagusnya lagi, walaupun ada beberapa scores yang membantu film ini secara krusial, scores film ini dapat menyeimbangi dengan tepat, sehingga tidak membayangi adegan-adegan penting berlangsung.


Rating

Setelah menonton ini (dengan sendirian #sad), maka penulis memberikan nilai:

7.5 / 10

Jadi, intinya layak untuk ditonton lah. Oke, itu dulu. Silahkan komen dan kritik.

Terima kasih udah membaca ini. Nantikan artikel-artikel My Review selanjutnya.

As always, keep reading books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s