10 Film Terbaik 2016 dengan Sinematografi yang (Terlalu) Bagus

Tahun 2016 penuh dengan film-film bagus, tapi ada beberapa saja yang menampilkan sinematografi yang (terlalu) bagus.

Jadi, di daftar ini sudah tidak dipertanyakan lagi apakah skenario filmnya bagus atau tidak, yang menjadi persoalannya adalah visual, audio, dan editing serta bagaimana ketiga unsur itu menampilkan cerita ke film.

Langsung saja, inilah daftar 10 Film Terbaik 2016 dengan Sinematografi yang (Terlalu) Bagus:

10. Allied

Di sini penulis mencari sinematografi yang bisa mengenali setting waktu cerita film sehingga memberikan keunikan dalam pengambilan gambar dan warna film. Bahkan tak ketinggalan bagaimana setiap adegan ditampilkan di layar selayaknya film pada masa tertentu dengan sentuhan teknik film modern masa kini.

Banyak film yang seperti disebutkan di atas, seperti Blade Runner (1982) yang memperlihatkan dunia futuristik Los Angeles, atau The Artist (2011) yang berani menampilkan visual selayaknya film sebelum tahun ’30an. Untuk tahun ini, kita punya Allied yang mana telah menunjukkan sentuhan film tahun 1940an tanpa menghilangkan kehebatan sinematografi modern. Contohnya adalah ketika mirror shot di mana kamera seolah-olah menghilang ketika melewati cermin. Genius.

image_5
Mirror shot

9. Tower

Ketika sinematografi melangkahi suatu batas normal dan menunjukkan bahwa “berbeda itu hebat”, lalu merangkul film dalam balutan cerita yang kuat dan emosional maka di situlah letak kehebatan film Tower.

Tower memberikan visual seperti ilustrasi buku komik/gambar doodle yang menarik untuk memperlihatkan cerita dramatis nan emosional ke dalam film dokumenter dengan sinematografi film pada umumnya. Visual yang biasanya kita temukan dalam buku komik/gambar yang mencerminkan kemenarikan dan nilai-nilai positif dibawa ke dalam cerita yang dramatis-ironis sangatlah berani. Dan film ini berhasil membawakan itu semua tanpa ada kejanggalan visual dengan cerita tersebut.

Film ini akan terus membawa penonton dan memanjakan mereka dengan kehebatan visual dengan warna dan transisi gambar yang unik. Bahkan menggabungkan dengan video dokumenter asli dari kejadian di mana plot cerita diadaptasi. Sangat bagus.
[Nonton? Klik di sini]

8. Kubo and The Two Strings

Jika Tower membawakan plot cerita ke dalam visual namun masih memakai aktor-aktris nyata untuk memainkannya, maka Kubo and The Two Strings menggunakan figur kecil sebagai pemainnya.

Film ini menggunakan molding clay untuk membuat karakter animasi dan menggerakkan semua karakter itu dengan satu per satu menyesuaikan frame gambar. Sehingga nantinya bisa digunakan untuk membuat gambar bergerak dan penonton dapat menikmati layaknya film pada umumnya.

kubo-and-the-two-strings-vfx-breakdown-4tumblr_nzh6sifbpn1qi8pxqo8_1280a8b1fd72d1706bb4e6ba998b15a87298kubo-two-strings-movie-garden-eyes

Tapi bukan hal itu yang istimewa dari film ini, cara Laika Entertaiment mengambil karakter-karakter itu dan membuat mereka hidup, dan beraksi, dan menampilkan semua itu ke dalam film adalah yang menonjolkan film ini. Berhasil memukau dengan visual yang unik, penuh dengan warna, dan memainkan warna ke dalam shadow dan highlight merupakan kemampuan yang hebat dari Laika dan kekuatan film ini.
[Nonton? Klik di sini]

 

7. The Autopsy of Jane Doe

Film bukan hanya menampilkan visual yang baik dan menarik sehingga penonton tetap duduk dan merasa tertarik untuk tetap melihat ke layar. Film juga harus memainkan visual itu sehingga visual itu menjadi cerita, jadi membuat semuanya terfokus hanya pada apa yang ditampilkan. Informasi itu penting sehingga hanya menampilkan bagaimana seharusnya informasi diterima oleh penonton.

Bisa kita lihat contohnya dengan adegan film-film action di tahun ini, namun film thriller-lah yang memegang juara untuk tahun ini. Perkenalkan The Autopsy of Jane Doe di mana film ini berhasil “menggenggam” rasa penasaran penonton untuk melihat pada informasi visual yang ditampilkan dengan indah dan kuat. Apalagi ceritanya yang juga mencekam disertai keindahan screenplay.
[Nonton? Klik di sini]

6. Green Room

Penulis sudah memilih apa yang sinematografi bisa lakukan dengan visual dan cerita, tapi bagaimana jika tema film itu ditanamkan ke sinematografi, bukan ke cerita? Menarik bukan?

Tema claustrophobia (takut akan ruang tertutup) membayangi film Green Room dan memberikan sedikit foreshadowing ketika membawa penonton ke tengah-tengah cerita di mana akan menjadi klimaks film. Mengapa tidak dihubungkan dengan cerita? Karna tidak ada karakter yang mengatakan ataupun menunjukkan bahwa mereka memiliki claustrophobia, hanya sinematografi yang memiliki itu dan diperlihatkan dengan indah sepanjang film.
[Nonton? Klik di sini]

5. The Handmaiden

Sekarang, sinematografi-nya lebih mendalam lagi yakni bergabung dengan karakter, bukan cerita dan visual. Jika menggabungkan sinematografi berfokus pada karakter sehingga fokus penonton dapat diubah-ubah walaupun cerita film tergolong rumit atau sulit, seperti Inception (2010) dan Memento (2000).

Film ini pintar memainkan pengambilan sudut pandang yang sempit dari karakter, namun secara perlahan-lahan membaurkan pemahaman penonton terhadap cerita sehingga cara ini cocok untuk film misteri dan thriller.

Tahun lalu kita mendapatkan Ex Machina (2015) untuk kategori penggabungan sinematografi dengan karakter, tahun ini kita punya film Korea Selatan berjudul The Handmaiden (Ah-ga-ssi).
[Nonton? Klik di sini]

4. Hunt for The Wilderpeople

Sinematografi-nya kok kelihatan serius dan penuh misteri, gak ada yang enjoyable ato menyenangkan dilihat? Tentu saja ada, silahkan saja lihat Hunt for The Wilderpeople.

Film ini memberikan sinematografi bertema digabungkan dengan karakter sehingga cerita terpaku pada karakter tersebut. Penuh dengan keindahan gambar yang thematic dengan relasi karakter, yakni “perjalanan karakter untuk mengenal lebih dekat”.

Jelas dari visual yang ditampilkan bahwa film ini terlihat biasa saja, namun punya “rasa” yang unik. Sebab ketika penulis menonton film ini terasa seperti membaca sebuah buku petualangan yang menarik, seperti Moby Dick, atau Adventure of Hunkleberry Finn.

Genre film ini komedi-drama sehingga ada kesederhanaan visual dan memainkan visual itu untuk menciptakan unsur komedi secara eksplisit/terang-terangan, bahkan implisit/tersirat.
[Nonton? Klik di sini]

3. Kaili Blues

Satu kata: Bermakna.

Sinematografi film Kaili Blues berhasil membawakan cerita yang menarik dengan visual yang biasa di mata, namun memiliki makna. Dengan memainkan kedalaman arti visual terhadap cerita sehingga setiap frame film tampil, penonton tahu apa yang didapatkan dari film ini.

Lumayan berat sih cerita film ini, namun dibantu dengan sinematografi yang biasa dan sederhana sehingga penonton tak kehilangan sentuhan dunia nyata dan sifat kemanusiaan dalam visual.
[Nonton? Klik di sini]

2. The Witch

Bagaimana jika sinematografi pada film tidak membawakan informasi yang cukup, namun membangun cerita dari awal (nol) hingga akhir film. Sehingga sinematografi layaknya teman yang selalu menyimpan rahasia, namun membuka rahasia pada teman-teman lain. Dan sinematografi “membuka” rahasia cerita dengan menampilkan pecahan-pecahan informasi yang tak komplit sehingga penonton harus menebak-nebak dan selalu penasaran akan jalan cerita.

Itulah The Witch. Tak ada informasi yang komplit ditampilkan, selalu saja ada cut, ada transisi frame, dan perubahan sudut pandang karakter yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan protagonis sehingga ditampilkan secara dominan. Dengan cerdas ditampilkan dan menarik, apalagi dengan adanya lateral movement pada kamera dapat menjadi penanda masalah cerita muncul, berjalan, dan selesai. Just incredible.
[Nonton? Klik di sini]

1.  Hell or High Water

Pada dasarnya semua orang menginginkan katarsis untuk emosi yang positif, secara sadar ataupun tak sadar. Maksudnya adalah apapun karakter setiap orang pasti ada keinginan untuk kebaikan, untuk emosi yang baik, untuk ketenangan hati dan pikiran. Semua unsur itu dikombinasikan ke dalam sinematografi sehingga memunculkan nilai seni, bukan hanya hiburan belaka. Bahkan jika memang bener dieksekusi, film itu bisa menjadi sebuah classic.

Bagaimana cara untuk membawakan kekuatan katarsis tersebut ke dalam gambar film merupakan hal yang selalu rumit untuk diterapkan. Jika diterapkan dengan benar, akan terlihat seperti film Shawshank Redemption (1994), Forrest Gump (1994), dan Cast Away (2000). Jika salah, maka akan terlihat seperti Jupiter Ascending (2015), Remember Me (2010), dan The Happening (2008).

Untungnya, di tahun ini kita punya Hell or High Water yang dari segi cerita dan kombinasi dengan sinematografi merupakan “lukisan” film yang seiring setiap adegan ditampilkan dengan sederhana dan indah. Bravo.
[Nonton? Klik di sini]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s