The Handmaiden (Ah-ga-ssi) (2016) Review | Menarik, Lucu, dan Penuh Gairah

Dari Korea Selatan, muncul film yang bener-bener bagus, dan penulis baru tahu bulan ini, padahal ini film sudah dari September lalu. Goddammit, saat bioskop Indonesia tidak menampilkan film bagus, penulis merasa kesal. Kecuali, Train to Busan (2016) sempat muncul sih.

The Handmaiden (Ah-ga-ssi) disutradarai oleh  Chan-wook Park (Oldboy), dan dibintangi oleh Min-hee Kim sebagai Lady Hideko, Jung-woo Ha sebagai Count Fujiwara, dan Jin-woong Jo sebagai Kouzuki. (I don’t know these actors. LOL)

StoryLine

Dengan setting 1930an Korea Selatan, berkisah tentang Sook-Hee (Tae-ri Kim) yang dipekerjakan untuk menjadi pelayan Lady Hideko, seorang wanita muda Jepang yang tinggal dengan pamannya (Kouzaki). Tanpa sepengetahuan orang lain, Sook-Hee sebenarnya adalah seorang pencuri dan direkrut oleh Count Fujiwara untuk mengelabui Lady Hideko agar dapat menyerahkan hartanya ke Fujiwara. Dan yang tidak diprediksi oleh siapapun adalah masalah hati tidak dapat dipastikan karna akan selalu ada perubahan rencana,.

Pengeksekusian cerita sangat bagus, secara perlahan-lahan, mengambil waktu agar penonton dapat menyerap semua informasi yang ada, kemudian BOOM! dikagetkan dengan plot twist. Tentunya, plot twist-nya tidak hanya satu, tapi beberapa kali. Membuat cerita semakin menarik untuk ditonton. Film ini adalah tipe film yang dapat ditonton banyak kali dan tetap tidak bosan.

Setiap beberapa adegan diberi selingan humor sehingga film ini menyadari elemen manusia pada karakter-karakter yang ada. Tidak ada karakter yang bener-bener serius, dan tidak ada yang bener-bener lucu juga. Tampak seperti layaknya tingkah laku manusia pada umumnya.

Harus diingat bahwa penulis menulis “penuh gairah” pada judul review ini karna memang film ini penuh gairah. Erotisme. Perilaku seksual di mana-mana. Eksplisit dan implisit. Terbuka dan tersirat. Tidak ditampilkan dari segi hiburan, nampak seperti sebuah seni rupa patung Romawi yang dibangun untuk menggelorakan kebebasan seks tanpa melihat gender. Atau mungkin hanya untuk segera memajukan plot dengan memberikan cukup alasan pada karakter bahwa mereka harus melakukan perubahan pada rencana antar hubungan karakter. Apapun alasannya, it’s good.

Film ini membawakan rasa keinginan terdalam orang, sesuatu yang tabu di masyarakat, dan diperlihatkan dengan menarik, dan memiliki nilai estetika secara visual. Dengan membawakan cerita yang pas, mengangkat topik tabu tersebut film ini jelas tahu bagaimana karakter dan cerita menempatkan diri sehingga tidak ada kejanggalan dalam plot dan menjadi logis ketika semua plot digabungkan, walaupun ada plot twist.

Characters

Semua karakter di dalam film ini dimainkan dengan baik sekali, walaupun terlihat biasa saja permainan ekspresi, namun yang paling hebat dimainkan adalah akting ketika adegan di bak mandi antara Sook-Hee dan Lady Hideko. Ketegangan dan hasrat ditampilkan secara tersirat sangat bagus, apalagi tanpa dialog dan tanpa seksual, wah adegan yang intens. Seksualitas dimainkan tanpa eksplisit, dan hanya memainkan ekspresi wajah dan tangan sangat hebat pengeksekusiannya.

giphy

Kekuatan karakter Count Fujiwara tidak jelek, namun tidak bagus juga, hanya seperti menjadi alasan Sook-Hee dan Lady Hideko bertemu. Tidak ada latar belakang yang kuat, walaupun ada beberapa selingan bahwa dia memiliki alasannya mengapa dia menjadi seperti sekarang. Layaknya roti mewah yang disajikan tanpa selai. Untungnya, akting Jung-woo Ha sangat bagus sekali memerankan karakter tersebut.

Uncle Kouzaki tampak mencekam sebagai seorang manusia, bahkan bisa dikatakan dia bukanlah manusia. Namun penekanan karakternya hanya bersifat dua dimensi, berarti tidak ada kedalaman karakter. Hanya bisa terlihat bahwa dia itu jahat dan manipulatif.

Cinematography

Asli megah, keren dah. Memainkan tracking shot yang digabungkan dengan trombone shot pada adegan ketika Sook-Hee bertemu dengan Lady Hideko dan Kouzaki di perpustakaan. Just plain great.

Sinematografi film ini memainkan pada kontras dan perspective shots supaya adegan plot twist menjadi masuk akal dan logis. Pengeksekusian tidak tampak janggal, apalagi ditambah detail shots untuk mengangkat ingatan penonton pada adegan tertentu sehingga jika ditampilkan pada waktu setelahnya penonton tetap tahu dan mengerti maksud cerita. Brilliant.


Rating

Lagi-lagi nonton streaming (males banget ya bioskop Indonesia), penulis memberi nilai:

9.0 / 10

Jadi, film ini terlalu bagus untuk dilewatkan sebelum akhir tahun 2016 berlalu.
Oke, silahkan komen, saran, dan kritik.
Terima kasih udah membaca ini.

As always, keep reading books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s