Bagaimana Silence Membawa Isu Agama dan Keyakinan? (SPOILERS)

Yes, seorang sutradara The Last Temptation of Christ (1988)Goodfellas (1990), dan The Wolf of Wall Street (2013) yang legendaris telah merilis sebuah film tentang pendeta Jesuit di Jepang yang mana sutradara tersebut terobsesi selama dua dekade. Dia adalah Martin Scorsese.

Silence (2016) berdasarkan buku yang berjudul sama, diterbitkan pada 1966 oleh penulis Jepang-Katolik legendaris Shusaku Endo.

Di sini penulis tidak menulis rangkuman dan review film karna bisa dicari di internet. Mari simak analisis film Silence:

1) Setting Cerita

Silence mengambil tempat di Jepang pada tahun 1600an di mana saat itu adalah puncaknya pemerintahan Jepang melakukan persekusi terhadap penganut ajaran Kristen. Walaupun misionaris telah melakukan konversi terhadap tak sedikit orang Jepang, namun karena Pemberontakan Shimabara yang dilakukan oleh orang Jepang-Kristen telah membuat pemerintah untuk melarang pendeta Kristen-Katolik untuk datang ke Jepang.

mv5bmtkxode0njyxov5bml5banbnxkftztgwmzazndg4mdi-_v1_sx1500_cr001500999_al_

Pemberontakan Shimabara terjadi pada kekuasaan Tokugawa Shogunate ketika masa klan Matsukura sedang melakukan pembangunan istana di Shimbara. Dengan itu, membutuhkan dana pembangunan yang besar sehingga pemerintah menaikkan tarif pajak yang memberatkan para petani dan ronin (samurai tanpa tuan).

Kemudian dilakukan persekusi terhadap Jepang-Kristen yang akhirnya membuat pemberontakan pada 1637. Tokugawa Shogunate mengirim lebih dari 125.000 pasukan untuk menekan pemberontakan, dan pemerintah berhasil mengalahkan pemberontak hingga menekan mereka di Istana Hara.

Pemimpin pemberontakan tersebut, Amakusa Shiro, pun dieksekusi dengan dipenggal kepalanya sebagai awal dari kebijakan pemerintah Jepang untuk mengeluarkan kebijakan persekusi resmi secara nasional terhadap penganut Kristen-Katolik yang berakhir hingga 1850an.

2) Simbolisme dan Kiasan

Kedua mantan murid Ferreira (Liam Neeson), Father Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver), pergi ke Jepang untuk bertemu dan membawa kembali dirinya ke Vatican. Penonton diarahkan pada kedua pendeta tersebut agar memfokuskan pada cerita, namun seiring film berjalan, penonton jadi mengerti bahwa sudut pandang Rodrigues yang menjadi pacuannya. Sehingga tema keraguan (self-doubt) terhadap keyakinan menjadi lebih personal dan mendalam di dalam diri Father Rodrigues, sehingga membuat keterkaitan terhadap setiap orang bahwa keraguan itu ada dan dialami.

Film ini juga menampilkan seberapa terisolasinya penganut Jepang-Kristen, terisolasi dan terpisah secara geologis dan karena tekanan pemerintah bahwa mereka akan dihukum jika tetap menganut atau mengingkar dari Kristen agar dibiarkan hidup. Isolasi ini mengisyaratkan bahwa tidak ada yang mengetahui kebenaran dan bagaimana mencaritahunya, walaupun mereka berusaha mencari kebenaran itu. Hal yang bisa dilakukan adalah tetap percaya.

mv5bmjqxmdkymjiwnv5bml5banbnxkftztgwnjazndg4mdi-_v1_sx1500_cr001500999_al_

Batasan antara agama dan spiritualitas juga diperlihatkan dengan cerdas, di mana agama adalah sebuah sistem untuk membantu manusia beribadah terhadap Tuhan. Sedangkan, spiritualitas adalah hubungan antara individu dan Tuhan. Hal itu bisa penonton lihat dari Rodrigues sendiri, yang tentu saja hal ini mereferensikan seperti hubungan Yesus dan Tuhan di mana ada keyakinan, keraguan, dan pengorbanan diri untuk pencapaian yang lebih besar dari ego diri.

mv5by2i1zdiwmwytmje3nc00n2viltk0mdmtmdaxm2qzn2m5mmy2xkeyxkfqcgdeqxvynjuwnzk3ndc-_v1_
Ferreira (Liam Neeson) dan Rodrigues (Andrew Garfield).

Adegan-adegan kebrutalan dari pemerintah Jepang terhadap penganut Jepang-Kristen dipertunjukkan secara simbolik dengan mengikat mereka di salib. Hal ini mereferensikan bahwa mereka yang disiksa dan tetap menjaga keyakinan hingga ajal adalah martir. Sama halnya dengan kejadian di masa kerajaan Romawi kuno di mana penganut ajaran Kristen pada awalnya masih diam-diam dan tersembunyi. Jika ada yang ketahuan menganut ajaran tersebut maka mereka akan disalib.

Yesus didefinisikan dengan pengorbanan dirinya untuk keselamatan manusia, seperti halnya Rodrigues yang menderita, mengalami tekanan fisik, mental, dan spiritual, dan harus memilih untuk menyelamatkan penganut Jepang-Kristen dengan pengingkaran atau membiarkan mereka mati tetap dalam keyakinan, pilihan itu juga berlaku untuk dirinya.

mv5bnjm1yzrkmwmtogy1my00mzg1ltlmytitmtqxn2zmnta2ytvjxkeyxkfqcgdeqxvynjuwnzk3ndc-_v1_
Penganut Jepang-Kristen disalib.

Bahkan karakter Kichijiro, seperti Judas, pada awalnya penganut dan teman baik Rodrigues di Jepang, namun dia pun memberitahukan informasi terkait Rodrigues kepada pemerintahan Jepang demi beberapa koin perak. Rodrigues membenci tindakan Kichijiro itu, tapi seiring waktu dia memaafkan tindakannya itu.

mv5bmtkzmtm1yzqtogvjms00owvhlwixn2mtnjyzmgiyytmwmdc2xkeyxkfqcgdeqxvynjuwnzk3ndc-_v1_
Rodrigues dan Kichijiro.

Pada babak ketiga (third act), penonton diperlihatkan bahwa Rodrigues telah mengingkar dan memilih menjadi penduduk Jepang. Namun, pada akhir film, bisa dilihat Rodrigues memegang salib di dalam peti matinya sebelum dia dikremasi. Mengisyaratkan mungkin Rodrigues masih memegang keyakinan ajaran Kristen dan selama ini dia hanya menutupi dengan kedok sebagai penduduk Jepang agar dia tak dihukum.

3) Jepang dan Barat

Hubungan antara Jepang dan Barat ditampilkan secara kiasan ketika Inoue menceritakan kisah “The Four Mistresses” di mana ada empat kekasih yang menginginkan raja agar mempersunting salah satu dari mereka. Namun pada akhirnya sang raja tidak memilih satu pun dari mereka sebab mereka terbukti “busuk”.

mv5botq1zwrindctogriyi00ndvllthjmzetnjexy2u0ngrlngfkl2ltywdlxkeyxkfqcgdeqxvyndkzntm2odg-_v1_sy1000_cr0015001000_al_
Inoue kepanasan, mengkipas dirinya.

 

Empat kekasih tersebut mengkiaskan empat negara Barat, yakni Portugal, Spanyol, Inggris, dan Belanda yang mana mereka semua ingin mendapatkan monopoli bisnis dagang dengan Jepang dan tidak ingin berbagi kebijakan bisnis dengan negara Barat yang lain tersebut. Namun, Jepang mengetahui bahwa jika salah satu dari mereka berhasil memonopoli dagang di Jepang akan memberikan pengaruh buruk, seperti mereka akan mengirim misionaris sehingga menghilangkan ajaran Budha dan Shinto, menggunakan suatu perjanjian di mana mata uang mereka menjadi pokok perdagangan, serta membuat suatu “kecanduan” barang sehingga mereka bisa memanipulasi nilai-nilai dagang dan kebijakan Jepang.

Silence-Andrew-Garfield
Dat hair tho.

Rodrigues menyangkal bahwa dia tidak mewakili negara-negara Barat, tapi Gereja Katolik. Inoue mengatakan bahwa dia juga punya istilah untuk itu, dia menyebutkan bahwa Gereja Katolik seperti “barren women” atau wanita yang tak dapat memberikan keturunan. Dengan kata lain, Gereja Katolik tak memiliki apapun yang bisa ditawarkan kepada pemerintahan Jepang dalam bidang politik dan ekonomi.

Dalam menangani hubungan dengan negara lain, Jepang harus mendapatkan sesuatu dari hubungan tersebut, seperti menjadi tempat bisnis, mendapat sekutu militer atau bantuan persenjataan, atau apapun yang bernilai. Sedangkan, Gereja Katolik hanya bisa menawarkan masalah seperti Pemberontakan Shimabara dan penyusup asing seperti Father Rodrigues.


Hai, terima kasih sudah membaca artikel panjang ini. Silahkan komen, kritik, dan saran.

Nantikan artikel Film Analysis selanjutnya.

As always, keep reading books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s