Logan (2017) Review | Salam Perpisahan yang Sempurna untuk Wolverine

Logan (2017) di mana peran terakhir Hugh Jackman sebagai Wolverine sekaligus sebuah “salam perpisahan” yang sempurna untuknya.

Film ini disutradarai oleh James Mangold, dan dibintangi oleh si legendaris Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen, Boyd Holbrook, dan Richard E Grant.

No spoilers here.

StoryLine

Mengisahkan sang Wolverine yang menua dan kehilangan kekuatan self-healing bersama Prof Charles Xavier yang menderita Alzheimer. Mereka terlibat dengan seorang gadis muda, Laura, yang ternyata adalah sebuah klon dari genetik Logan berkode X-23. Kemudian, mereka berusaha menyelamatkan diri dan kabur dari pihak yang bertujuan untuk memusnahkan ras mutan dari dunia.

Menurut penulis, film ini adalah film superhero terbaik yang pernah dibuat, malah terasa tidak seperti film superhero, terasa seperti film drama-calon-penerima-Oscar. Penulis merasakan semacam vibe/getaran layaknya film No Country For Old Men (2007) dan Hell or High Water (2016). Bener-bener bagus, ceritanya dibuat dan diperlihatkan secara matang, reaksi-aksi realistis, dan asli brutal. Ya, brutal karna film ini R-rated, jadi anak-anak jauhi dulu untuk nonton ini.

Aksi di dalam film bener-bener brutal dan banyak potongan tubuh, darah, penetrasi cakar adamantium Logam dan Laura ke musuh, dan bagaimana pembawaan ritme aksi dan drama yang pas. Realistis, tidak terasa seperti kebanyakan film superhero di mana ada kemungkinan hal yang tak mungkin terjadi malah terjadi. Di film ini, kalo mati ya mati, people die here. A lot of people died.

Sempat juga beberapa shots menunjukkan memorabilia dari masa lalu Logan, yang tentu saja, merujuk pada film X-Men Origin Wolverine (2009) dan The Wolverine (2013). Bahkan Logan dan Charles mereferensikan Patung Liberty di mana itu adalah klimaks dari X-Men (2000). Walaupun sebenarnya Charles bermaksud tentang Liberty Motor Motel di mana Laura berada, bukan Patung Liberty.

Memang film ini mengadaptasikan dari cerita di komik Old Man Logan, hanya saja tidak sepenuhnya. Memang jika diadaptasi sepenuhnya, penonton umum akan bingung dan hanya fans Marvel sejati yang bersorak. Jika di komik ber-setting di dunia post-apocalyptic, di film ini tetap dunia seperti biasanya hanya di-setting pada tahun 2029 dan di wilayah perbatasan Meksiko dan sekitar daerah Mid-Western.

Walaupun tidak mengadaptasi penuh dari komik, film Logan telah terbukti menjadi film drama-action superhero yang luar biasa.

Characters

Cerita film memfokuskan pada Logan dan Charles yang sudah tua, I mean f- they’re old. Mereka punya “mata lelah”, lelah karna telah melihat dunia, kepahitan masa lalu, dan tindakan mereka di masa itu. Mereka terlihat seperti ingin mati saja, terutama Logan. Akting Hugh Jackman dan Patrick Stewart bener-bener terasa asli, orisinil, dan realistis jika dibandingkan dengan mereka ketika di film X-Men lainnya.

Laura (Dafne Keen), klon produk experimen Alkali, bener-bener brutal dan bad-ass banget. Keen sangat bagus sekali sebagai pilihan untuk memerankan Laura di mana aktingnya sangat mudah dipercaya dan “mengalir”, tidak terasa dipaksakan. Apalagi ketika babak ketiga (third act), wow semua emosional bener-bener “mengalir”.

Ada karakter tambahan yang memang sengaja secara spesifik untuk film ini, dan beberapa karakter ekstra untuk memajukan alur cerita. Sedikit dipaksakan karna mereka tidak memiliki bobot yang penting untuk dikontribusikan ke cerita, lebih hanya tambahan untuk mendramatisir adegan saja. Namun tidak mengganggu fokus cerita dan bobot cerita utama sendiri.

Cinematography & Film Scores

Just beautiful.

Seperti penulis bilang di atas bahwa terasa ada vibe/getaran film No Country For Old Men dan Hell or High Water. Memang begitu, film ini ditayangkan dengan pengambilan gambar yang sederhana, seperti wide-medium shots, close-up shots dan medium-close up shots untuk mendramatisir percakapan, tracking shots, steady-cam shots dan handheld camera, dan establishing shots untuk gambar lokasi. Cutting dan editing dirasa pas, color grading tidak berlebihan sehingga bagus.

Shots yang mengesankan adalah shacky camera shots yang bergetar-getar selayaknya ada gempa. Shots itu untuk menunjukkan kekuatan Charles di mana dia mengalami kejang gejala Alzheimer-nya. Menurut James Mangold, dia menggetarkan kamera dengan getaran cepat, kemudian ketika editing menerapkan stabilizer dan hasilnya seperti yang bisa kamu lihat di film. I never thought it would be that good.

Film scores juga lebih halus dan diwaktukan pada adegan yang pas, tidak setiap adegan ditambahkan musik. Sehingga penonton bisa lebih menyerap ikatan emosional tertentu lebih nyata, tidak dibuat-buat karna musiknya memberitahu penonton untuk bagaimana bereaksi pada suatu adegan.


Rating

Jadi, setelah menonton dengan tanpa berkedip dan kunjungan ke dokter mata, maka penulis memberi nilai:

9.5 / 10

Oh yeah.

Terima kasih sudah membaca review ini. Silahkan komen, kritik, dan saran. Nantikan artikel My Review selanjutnya.

As always, keep reading books.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Ryan says:

    film memfokuskan pada Logan dan Charles yang sudah tua, I mean f- they’re old haha keren ka aku reccomend nih HOSTEL MURAH DI BANDUNG COCOK UNTUK BACKPACKER

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s