Brimstone (2017) Review | Realita Kelam Feminisme yang Bukan Main

Kalo ingin menonton sebuah film yang mengisahkan kebenaran realita yang tidak setengah-setengah, bener-bener murni, tanpa filter, ini film yang cocok buat kamu. Persiapkan mental juga jika tidak ingin merasa merinding atau jijik terhadap pengambaran di film ini karna film ini menyajikan apa adanya arti kekejaman manusia terhadap manusia lain.

Brimstone (2017) disutradarai oleh Martin Koolhoven, dan dibintangi oleh Dakota Fanning (War of The Worlds, Man on Fire), Guy Pearce (Memento, LA Confidential), dan Kit Harington (Game of Throne series).

No spoilers here.

StoryLine

Brimstone mengisahkan seorang wanita muda bernama Liz bersama suami dan dua anaknya yang hidupnya berubah setelah seorang pendeta (Reverend) yang baru datang. Sudah jelas dari trailer film ini bahwa sang pendeta membawa masalah terhadap Liz dan keluarganya, maka dari itu mereka berusaha menyelamatkan diri dari sang pendeta yang ternyata menyimpan sesuatu yang menguak kebenaran.

mv5bnjcwmjuymdi5of5bml5banbnxkftztgwote2ntgxote-_v1_
Liz dan keluarganya.
mv5botq1mzm3otqzmf5bml5banbnxkftztgwntuzntm2ote-_v1_sx1500_cr001500999_al_
The Reverend cometh.

Film ini ditayangkan dengan atmosfir kelam, suram, brutal, kekerasan, dan tentu saja seksual. Pembawaan cerita yang berbobot berat ini dibawakan dengan cerdas dan penyajian alur cerita (plot device) yang masuk akal, realistis, dan sederhana. Sehingga penonton bisa mengerti setiap motivasi karakter dengan mudah hingga akhir film.

BTW film ini punya “rasa” yang sama seperti film The Night of The Hunter (1955) dan El Topo (1970).

Emosi yang kuat sekali ditampilkan, walaupun cenderung ke emosi negatif seperti ketiadaan harapan, kesedihan, dan penyiksaan fisik dan mental. Film ini juga menawarkan porsi sedikit emosi positif seperti pertemanan, kebulatan tekad, dan cinta. Mungkin beberapa dari penonton akan merasa terganggu dengan pengambaran di film ini, tapi justru dengan pengambaran seperti hal dianggap tabu inilah yang mendorong untuk mempertahankan kreativitas idealisme dan “suara” aktivis feminisme ke dalam film.

Menurut penulis, film ini membawa pesan bahwa untuk mendapatkan ketenangan, kesuksesan, dan keberhasilan dalam suatu apapun di hidup ini harus melewati proses yang lama dan panjang di mana, tentu saja, ada siksaan fisik dan batin yang menguras semua atom dalam diri. Pilihan tepat juga bahwa menggunakan protagonis seorang perempuan karna, dari masa lalu hingga masa kini, feminisme merupakan topik yang unik dan menarik berirama dengan pesan film ini.

Namun, ketika di pertengahan film seperti bobot cerita film ini menjadi berat sekali sehingga seperti terlalu menekan tema film menjadi begitu penting sekali. Tapi, keseluruhan sudah cukup bagus.

Characters

Semua akting dari setiap aktor di film ini sangat hebat dan bagus, bener-bener meyakinkan, dan tidak terlalu berlebihan. Terutama akting Dakota Fanning dan Guy Pearce yang mana sangat menakjubkan dipandang mata.

mv5bmwfizdu3zwqtyzvlzc00nwqzltk5ntktmjq5ywe0mtm1yja5l2ltywdll2ltywdlxkeyxkfqcgdeqxvymje0mze1nq-_v1_sy1000_cr0015001000_al_
Liz sedang nongkrong di bar. jk.

Cerita film ini berfokus pada karakter (character-driven story) sehingga tidak heran akting Dakota Fanning sangat natural dan hebat.

Penonton bisa mengerti dan mengikuti setiap emosi dari karakter, semua segi kehidupan dari cerita manusia yang dianggap tidak pantas diceritakan dibawakan dengan bagus dari para aktor film ini. Intinya tidak ada akting aktor yang terbuang percuma di sini.

Cinematography & Film Scores

Very strong.

mv5bnti3odjmnzgtmjfiny00mdhllwewnzktywewmde4ntrhzjlil2ltywdll2ltywdlxkeyxkfqcgdeqxvyntu4nda1nda-_v1_

Setiap framing dari film ini dibawakan dengan kuat sekali, karna ada pesan tersembunyi, ada makna di balik gambar yang ditampilkan. Sinematografi terlihat memiliki pengaruh yang kuat untuk mempertegas dialog dari setiap karakter, dan kondisi setiap karakter ketika di tampilkan dalam frame.

Sinematografi Brimstone berpijak karakter Liz sehingga sepertinya sang sutradara ingin kita melihat cerita ini dari mata Liz, sehingga menekankan empati terhadapnya.

Film scores juga tidak berlebihan sehingga pas dan sederhana. Untuk adegan tertentu khususnya adegan tanpa dialog menggunakan film scores yang mengiringi makna tersembunyi dari setiap framing yang ada. Beautiful.


Rating

Setelah menonton, maka penulis memberi rating:

8.5 / 10

Oke, itu dulu. Silahkan komen, kritik, dan saran. Terima kasih sudah membaca review ini. Nantikan artikel My Review selanjutnya.

As always, keep reading books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s