Life (2017) Review | Menarik, tapi Kurang Mengesankan

Well, film ini berusaha untuk terlihat seperti film Alien (1979), 2001: A Space Odyssey (1968) dan Gravity (2013), hanya saja tidak sebagus ketiganya. Not even close.

Life disutradarai oleh Daniel Espinosa, dan dibintangi oleh Jake Gyllenhaal, Ryan Reynolds, dan Rebecca Ferguson.

No spoilers here.

StoryLine

Life menceritakan tim eksplorasi luar angkasa yang terdiri dari enam anggota kru yang menemukan sebuah organisme seperti spora yang mereka beri nama “Calvin”. Mereka tidak menyangka bahwa organisme yang mereka temukan itu akan menjadi ancaman keselamatan hidup. Calvin berkembang dan berkembang seiring film berjalan, dan setiap kru harus bertahan dari Calvin agar tidak mati.

Dasar cerita sudah cukup menarik, hanya saja dibawakan dengan kurang mantap, kurang mengesankan. Espinosa tampaknya menyadari bahwa special effects tidak akan menjual film ini dengan baik, kecuali ada faktor manusia, karakter yang bener-bener menarik dan ada kedekatan dengan kehidupan manusia pada umumnya. Hanya saja, pengembangan cerita ke layar tampak pelan dan kurang efisien.

Film ini ber-setting luar angkasa, namun terkesan seperti film horror di rumah kosong atau hutan angker. Menggunakan arsitektur pesawat yang memiliki koridor sempit, dan lubang serta pintu palka untuk menciptakan atmosfir seram.

Untuk beberapa adegan, film ini menayangkan formula seram yang repetitif (diulang-ulang) sehingga terkesan monoton. Hal ini terjadi ketika cerita film berusaha berkembang menjadi lebih menegangkan.

Terlihat bahwa film ini sedang kebingungan untuk menjadi sebuah film yang menayangkan eksplorasi misteri luar angkasa atau film horror yang menarik untuk sekali tonton. Dengan semua rasa “kebingungan” itu, film ini tetap menyajikan cerita yang cukup menarik dan berhasil membuat penonton merasa ngeri.

Characters

Ryan Reynolds memainkan karakter Rory, seorang astronot yang sok tahu. Jake Gyllenhaal sebagai Dr David Jordan yang idealis dan jelas bukan orang praktikal. Si cantik Rebecca Ferguson memerankan Dr Miranda North yang memastikan protokol keamanan. Aktor internasional Hiroyuki Sanada sebagai insinyur Jepang. Olga Dihovichnaya sebagai seorang astronot Rusia Katerina.

Kenapa penulis memberitahukan itu semua? Karena mereka semua adalah protagonisnya. Yup, film ini tidak punya semacam pemeran utama tunggal, semua aktor tersebut adalah pemeran utamanya. Bisa kamu cek sendiri jika nonton ini.

Mereka memberikan performa akting yang bagus, tapi sayang untuk sekelas Hiroyuki Sanada yang karakternya kurang diberikan kesempatan oleh film ini untuk lebih banyak membuat karakternya lebih mendalam.

Performa akting mereka bisa mengikuti ritme perkembangan film yang seiring menjadi menegangkan ketika mereka menyadari seberapa tak berdaya untuk melawan Calvin dan bertahan hidup.

Cinematography

Pengambilan gambar Life semacam puisi karena visual yang ditampilkan bisa dibilang indah dan bagus, walaupun adegan mengerikan sedang tampil, terutama ketika ada yang memuntahkan darah dan diperlihatkan slow motion titik-titik darah melayang-layang di ruang. Apalagi adegan ketika makhluk itu merayap ke tenggorokan salah satu kru, dan menggulung korbannya layaknya ular phyton.

Salah satu shot yang memiliki kekuatan detail visual yang kontras adalah shot ketika jari bersarung tangan yang diremukkan kemudian berubah menjadi merah darah.


Rating

Penulis memberi nilai:

7.5 / 10

Lumayan lah.

Okay, terima kasih udah membaca ini. Silahkan komen, kritik, dan saran. Nantikan artikel-artikel My Review selanjutnya.

As always, keep reading books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s