The Devil’s Candy (2017) Review | Indie Horror Sejati dengan Visual yang Menyolok

Film ini merupakan film indie horror yang tahu bagaimana membuat horror sejati dan tidak memalsukan dengan jump scare yang murahan serta film scores menegangkan yang menipu. Film ini dibuat dengan sentuhan asli dari ketakutan manusia terhadap perilaku yang menyimpang manusia lain dan suatu pengaruh supernatural yang kasat mata. Just. Freaking. Awesome.

The Devil’s Candy disutradarai oleh Sean Byrne, dan dibintangi oleh Ethan EmbryShiri ApplebyKiara Glasco, dan Pruitt Taylor Vince

No spoilers here.

StoryLine

Mengisahkan seorang pelukis bernama Jesse (Ethan Embry) beserta istrinya Astrid (Shiri Appleby) dan anak perempuannya Zoey (Kiara Glasco). Jesse sedang berusaha untuk menafkahi keluarganya sekaligus menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga, terutama sebagai seorang ayah yang benar terhadap Zoey.

mv5byzaymzziyjytnwzini00yzbjlwi1n2itndjmytuxmdgxzdfkxkeyxkfqcgdeqxvymjg1mtu1nji-_v1_
Jesse (Ethan Embry) dan Zoey (Kiara Glasco).

Suatu saat, mereka memutuskan untuk membeli sebuah rumah di daerah county, dan dari situ Jesse mulai mendengar suara-suara aneh yang membisikinya, seolah-olah suara tersebut menghipnotisnya untuk melukis lukisan gore dan gothic. Di lain tempat, film ini juga menayangkan plot kedua terhadap seorang pria dewasa bernama Ray yang penonton bisa lihat bahwa dia telah melakukan pembunuhan keji terhadap keluarganya sendiri dan anak-anak kecil. Cerita ini membawa mereka saling bertemu dan Ray membawa ancaman terhadap keluarga Jesse, dan konflik keduanya menjadi titik fokus film ini.

mv5byjriognjyjetzdg1zi00odi4lwjjyjutmdfmmdcxmdexmmzhxkeyxkfqcgdeqxvymjg1mtu1nji-_v1_sx1776_cr001776987_al_
Jesse dan lukisannya yang bergaya gore dan gothic.
mv5bmwyxntezm2qtmdcwni00mzk0ltg0yjktywu0njc4yjvhnzkxxkeyxkfqcgdeqxvymjg1mtu1nji-_v1_sy1000_cr009631000_al_
Lukisan Jesse (close up).

Sebagai film indie horror, The Devil’s Candy sangat luar biasa. Film ini tahu bagaimana membangun rasa menegangkan (suspense) dan horror seiring membangun pendalaman karakter-karakter yang ada dengan menampilkan visual yang indah dan menyolok. Film ini memperlakukan penonton dengan pintar bahwa penonton punya selera horror yang sangat tinggi sehingga The Devil’s Candy jelas-jelas berhasil memenuhi selera itu.

Tahap film ini untuk membangun cerita dari babak pertama hingga ketiga sudah sangat bagus, walaupun untuk pendalaman karakter dirasa kurang di dalam film yang berdurasi 90 menit ini. The Devil’s Candy bisa saja menambahkan setidaknya 15 menit untuk menginvestasikan pendalaman karakter sehingga ketika konflik cerita pada babak ketiga akan dirasa lebih bagus dengan semua aksi menegangkan dan asli mengerikan.

Beberapa menit terakhir dari film ini juga dirasa kurang, lebih tepatnya kurang memuaskan dari segi pemahaman cerita karena tidak memberikan adegan resolusi emosional pada karakter Jesse. Sedikit aneh dan konyol, mungkin film beraliran psychological horror ini berusaha untuk menawarkan sesuatu yang unik dan baru dengan pesan tersembunyi di dalam visual film. Secara keseluruhan cerita film ini bisa dikasih jempol sebanyak-banyaknya.

Characters

Pembawaan karakter dan pendalamannya sangat bagus dibawakan dan diceritakan. Karakter mereka dan semua karakter pendukung di film ini benar-benar membangun film dengan tepat dan bagus sekali. Tidak terkesan dipaksakan, realistis, dan tanpa konflik keluarga yang agak tidak nyata. Walaupun begitu, pendalaman karakter dirasa kurang, apalagi untuk klimaks cerita agar kedalaman karakter terhadap adegan di film terasa lebih nyata.

Ethan Embry sebagai Jesse benar-benar totalitas dalam memainkan karakternya, dia menjadi pacuan yang membuat film ini semakin menarik. Penonton akan terbawa dengan tindak-tanduknya dalam perannya sebagai seorang kepala keluarga yang berusaha menafkahi keluarganya. Semua emosi, reaksinya terasa sangat nyata dan meyakinkan.

Apalagi ditambah Pruitt Taylor VInce sebagai Ray, si antagonis pembunuh keji, yang membawakan karakternya dengan sangat hebat sekali. Penonton bisa merasakan kekejiannya terhadap para korbannya, tidak semua ditampilkan secara eksplisit namun tetap terasa aura horror dari setiap adegan dia muncul di layar.

Cinematography & Film Scores

Pure awesome-ness.

Sinematografi film ini benar-benar menyolok, indah, bermakna, dan sangat mencengangkan. Terutama permainan pencahayaan (lighting) terhadap bayangan, dan cahaya natural serta lampu yang benar-benar menjual dan meyakinkan setiap adegan di film. Juga, medium-close up dan close up shots yang bener-bener menyiapkan adegan beraura mencekam dan menegangkan dengan bagus.

Film scores juga sangat bagus, mencocokkan dengan selera karakter film dan menyetarakan dengan editing film sehingga transisi film menjadi terasa pas dan bagus. Bahkan penonton mungkin tidak menyadari bahwa film scores memainkan bagian penting di rangkaian beberapa adegan, mungkin karena saking bagusnya.


Rating

Setelah menonton di kegelapan malam, penulis memberi nilai:

9 / 10

Asli bagus banget.

Oke, terima kasih sudah membaca artikel ini. Silahkan komen, kritik, dan saran. Nantikan artikel-artikel My Review selanjutnya.

As always, keep reading books.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s