Logan: Ketika Genre Film Superhero Sudah Lelah

Setiap genre film akan memiliki tahapan di mana ada awal dan akhir. Awal ketika suatu genre film sedang klimaks dan masif dalam jumlah film, dan akhir ketika orang-orang mulai lelah menonton genre tersebut karena memiliki ciri cerita dan plot yang sama. Sehingga membuat genre tersebut menjadi mudah ditebak, monoton, dan kehilangan fokus inti cerita originalnya.

Ketika orang-orang mulai lelah, mereka mulai bertanya pada industri film, “Kami bosan. Ada yang lebih baru?”

Ambil contoh untuk genre film superhero di mana secara teknis, genre film ini sudah berdiri pada tahun ’70an, namun belum mendapat pijakan yang kuat sehingga bisa bertahan di industri perfilman. Ketika era genre ini dimulai, hanya ketika rilis film X-Men (2000) genre film superhero memiliki pijakan tersebut.

Sebuah pijakan dan nafas baru untuk industri perfilman melirik genre film superhero ke layar lebar, dan setelah hampir dua dekade berlalu industri genre tersebut telah bernilai lebih dari puluhan triliun dolar. Namun, penonton mulai menunjukkan kelelahan ketika formula cerita yang sama terus digunakan sehingga peminat film superhero dan pendapatan industri menurun. Kemudian, datanglah Kevin Feige dengan idenya untuk membuat Marvel Cinematic Universe (MCU) dimulai dengan Iron Man (2008), dan 20th Century Fox membawa memutar ulang cerita origin baru dengan X-Men: First Class (2011).

Hal ini menjadi sebuah transformasi/perubahan dalam genre film superhero untuk tetap menarik penonton ke bioskop, dan membawa dolar ke industri perfilman mereka.

Dalam esai “Chinatown and Generic Transformation in Recent American Films” oleh John G. Cawelti yang dipublikasi pada tahun 1978 bahwa ada empat kategori di mana genre film pada umumnya bisa berubah:

  1. Burlesque Proper

    Kategori ini merupakan bentuk parodi dari suatu genre film, contohnya adalah film High Anxiety (1977) yang memparodikan film-film thriller karya Alfred Hitchcock seperti Vertigo (1958) dan The Birds (1963). Atau contoh lainnya adalah Young Frakenstein (1974) yang memparodikan film horror Frakenstein (1931).

    Tidak ada keseriusan dalam menyelesaikan masalah dalam cerita film pada kategori ini karena menggunakan komedi sebagai alasan untuk memainkan cerita yang pada dasarnya memiliki nilai original yang kemudian dijadikan lelucon. Memainkan segi komedi memberikan rasa baru untuk melihat kekonyolan cerita dalam film-film original yang dijadikan bahan parodi.

  2. Cultivation of Nostalgia

    Kategori ini memiliki nilai nostalgia yang memanggil cerita seorang protagonis di mana dia merefleksikan dirinya seperti di masa lalu, yang mana protagonis tersebut melakukan kembali tindakan yang membuat dirinya dikenal sebagai seorang karakter di suatu film.

    mv5bmjewnzrlmzutodiwms00n2iwlwe1ztgtodyznwy0mgjhody3xkeyxkfqcgdeqxvymji4mja5mza-_v1_sy1000_cr006541000_al_
    True Grit (1969) starring John Wayne.

    Ambil contoh film True Grit (1969) atau versi reboot-nya True Grit (2010), yang menampilkan karakter yang membawakan seorang karakter kontemporer (masa sekarang di film) yang kemudian “memanggil” sifat karakter kunonya (masa lalu di film) untuk melakukan suatu hal yang membuat karakternya menjadi penting kembali.

  3. Demythologization

    Untuk kategori yang satu ini memiliki ciri kompleksitas yang tinggi dalam penceritaan, realita yang kelam dan pesimis, dan memiliki kekerasan visual yang tinggi, baik ditampilkan secara eksplisit dan implisit. Dan untuk adegan  ending filmnya, jangan berharap untuk happy ending. Ambil contoh Chinatown (1974), di mana cerita seorang detektif yang menginvestigasi sebuah kasus pembunuhan dan inses yang melibatkan wanita aristokrat dan pengusaha perusahaan air California. Dan ending-nya, well anggap saja tidak ada resolusi untuk sang detektif.

    mv5bmtuymtq1nja2ov5bml5banbnxkftztcwodq1njg3oa-_v1_
    Chinatown (1974) starring Jack Nicholson.
  4. Reaffirmation of Myth

    Pada dasarnya, kategori ini memberikan pernyataan bahwa cerita yang ditampilkan di layar hanyalah sebuah mitos, tidak nyata. Namun, secara bertahap cerita menampilkan pernyataan berbeda yang merefleksikan bahwa mitos itu nyata dan menjadi suatu aspirasi dan kebutuhan bagi karakter-karakter di film.

    Contohnya adalah The Searchers (1956). Film ini menampilkan karakter protagonis seorang koboi yang mencari keponakannya yang diculik oleh Indian (native american). Rasa kebencian dan dendamnya meningkat seiring jalannya film, dan di mana kedua rasa tersebut terpenuhi walaupun ada rasa penyesalan dan lega setelah menemukan keponakannya tersebut. Dalam cerita ini menunjukkan perkembangan filosofi, pikiran, dan badan sang protagonis dalam pencariannya, dan setiap pilihan dan tindakannya mencerminkan jati diri sebenarnya, walaupun karakter lain tak melihatnya seperti itu, tapi penonton tahu.


    Namun, pendapat penulis sendiri ada contoh yang lebih bagus: The Dark Knight (2008) karya Christopher Nolan, film ini yang pada dasarnya menjadi suatu bentuk “standar” tidak resmi untuk membuat film superhero. C’mon who doesn’t like The Dark Knight?

Baru-baru ini, Logan (2017) adalah contoh kulminasi (puncak tertinggi) dari kelelahan genre film superhero di mana sutradara James Mangold menantang untuk mempertanyakan apakah ada kesempatan untuk genre ini bernafas lagi di industri perfilman, karena genre ini hampir menghabiskan formula “bahan bakar” cerita untuk ditampilkan.

Mangold nampaknya mengerti betul untuk menguji genre film superhero ini —film sekelas blockbuster/box-office yang notabenenya memiliki taruhan tinggi di industri perfilman— menjadi sebuah film yang berkategori Demythologization dan Reaffirmation.

Yang mana Logan (2017) men-demythologize cerita Logan yang tidak peduli untuk membantu kecuali untuk Prof. Charles dan Caliban, dia tidak terlalu terikat untuk membantu Gabriel dan Laura alias X-23. Bahkan sempat diperlihatkan dia menyakiti tangannya sendiri untuk merasakan sakit yang nyata, dan mencoba untuk menembak dirinya sendiri dengan peluru adamantium. Cukup kelam dan pesimis ceritanya.

Kemudian, menolak pen-demythologize-an tersebut dengan menampilkan babak ketiga di mana Logan menjadi Wolverine sang prajurit yang menolong, dia menolong Laura dan anak-anak mutan lainnya hingga nafas terakhir yang mana menjadi reaffirmation (penegasan kembali) bahwa dia masih peduli. Now that’s how you do a movie.

Pertanyaannya sekarang adalah: What’s your next move, Hollywood?

BTW: Writers Guild of America (WGA) melakukan demo pemogokan semenjak April 2017 lalu di mana penulis film mendapatkan masalah dalam perbedaan/penurunan dalam segi pendapatan dan kreativitas. Di lain pihak, penulis tv serial malah meningkat dalam kedua segi tersebut. Jadi, jika dalam tahun ke depan akan ada film-film studio besar dan kecil yang nampaknya memiliki kekurangan dalam kreativitas cerita, mungkin bisa saja hal ini menjadi salah satu faktornya.


Oke, terima kasih udah membaca artikel Thinkology ini. Nantikan artikel-artikel Thinkology selanjutnya.

Silahkan komen, kritik, dan saran. And as always, keep reading books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s