Bagaimana Marvel Menyelamatkan Spider-Man?

Secara pribadi, penulis suka dua film pertama Spider-Man yang disutradarai oleh Sam Raimi, karena Spider-Man 3 is a f***ing disaster dan The Amazing Spider-Man film series oleh Marc Webb merupakan kesalahan penceritaan dan pencitraan. Jadi, Sony —sang pemilik hak cipta film Spider-Man— berada di jalan buntu dengan Spider-Man franchise.

Dengan hasil box office yang kurang menguntungkan, akhirnya Marvel Studios dan Sony  Pictures memiliki kesepakatan untuk menjalankan Spider-Man franchise di mana segi kreativitas dijalankan oleh Marvel, distribusi oleh Sony, dan produksi oleh kedua pihak.

Oke, cukup masalah hukum/legalitas, sekarang bahas film Spider-Man: Homecoming (2017) dan bagaimana Marvel menyelamatkan the friendly neighborhood Spider-Man.

Mild spoilers alert.

  1. Smaller Stories

    Penulis film Spider-Man: Homecoming, yakni Jonathan Goldstein dan John Francis Daley. Dalam sebuah wawancara dengan Adriene Hill dari Marketplace, mengungkapkan bahwa mereka berdua membuat sebuah daftar panjang terkait adegan apa yang selalu ada di film Spider-Man sebelumnya, seperti kematian Paman Ben, dan Spider-Man berayun-ayun dengan web-sling-nya di antara gedung-gedung Manhattan, ataupun Peter merenung mengenai kehidupannya di atap gedung Empire State Building.

    mv5bmzq5njkzote0ml5bml5banbnxkftztgwnjmzntmzmji-_v1_sx1500_cr001500999_al_
    Tom Holland sbg Peter Parker/Spider-Man.

    Bahkan dalam inkarnasi film sebelumnya, Spider-Man selalu berhadapan dengan musuh-musuh yang memiliki ambisi besar dan ancaman tingkat tinggi yang tentu saja mengancam kota New York dalam bencana, seperti Doc Ock yang menciptakan energi buatan seperti matahari, atau Lizard yang membuat bom biologis yang membuat warga New York menjadi kadal termutasi.

    Dalam inkarnasi Spider-Man: Homecoming, Peter Parker sudah berada di dunia MCU di mana ada Avengers, alien, dewa, monster, dan perang saudara antar superhero, sehingga penulis film memutuskan untuk menggunakan skala cerita yang kecil. Cerita film yang ditampilkan lebih sederhana, tidak melibatkan bom ataupun sesuatu yang dapat meratakan New York dalam semalam.

    Sebab itu, adegan-adegan awal Spider-Man ditampilkan dengan menangkap pencuri sepeda, membantu orang tua menunjukkan arah jalan, dan menghentikan pencuri mobil yang ternyata pemilik mobil itu sendiri, bahkan kena omelan warga Queens dari jendela kamar mereka. Hal-hal kecil yang selalu dihadapi oleh superhero tingkat jalanan (street level).

    mv5bnddmnwu2zgitntgzys00zwe1lwflzjmtotiyntbkn2zhzje2xkeyxkfqcgdeqxvynjizmda2nje-_v1_
    Spider-Man membantu seorang wanita tua menunjukkan arah jalan.

    Itulah mengapa Spider-Man berhadapan dengan musuh yang intinya mereka adalah para pencuri. Mereka mencuri senjata alien Chitauri dari badan pemerintah dan menjualnya ke pasar gelap (black market). Para pencuri tersebut memiliki risiko untuk menyebabkan kerusakan di lingkungan Queens, dan tingkat keintensitas adegan dari awal hingga akhir dibuat secara bertahap sehingga terasa memiliki dampak lebih di babak ketiga film.

    mv5bntq2owvinzqtotvjnc00nmiwlwe2nditmzvmy2fjywe1mge4l2ltywdll2ltywdlxkeyxkfqcgdeqxvymjm1njkwmdi-_v1_
    screenshot trailer: Spider-Man dan para “Avengers” pencuri uang ATM.
  2. Showing Different Characters Arc

    Berapa kali Spider-Man kehilangan topengnya dalam pertarungan melawan musuh? Dari film-filmnya Sam Raimi ada banyak kali, Marc Webb juga banyak. Sebenarnya hal itu merupakan kesengajaan dari penceritaan. Kedua sutradara tersebut menolak untuk memberikan mata Spider-Man yang dapat bergerak-gerak seperti di komik yang diilustrasikan oleh Steve Ditko, agar terkesan lebih realistis. Namun hal itu menjadi kesulitan karena Peter Parker tidak dapat memperlihatkan ekspresinya ketika menjadi Spider-Man.

    Itulah hal pertama kedua penulis Spider-Man: Homecoming coba perlihatkan dengan memperbolehkan mata bergerak di topeng Spider-Man untuk menunjukkan ekspresi. Walaupun di babak ketiga, topengnya lepas dikarenakan untuk memperlihatkan ekspresinya sebab dia tidak menggunakan kostum Spider-Man buatan Stark, melainkan buatan sendiri.

    mv5bzwm2ntbkzjqtndu1mi00zdfllwiyngmtyjdin2fmndewztk1xkeyxkfqcgdeqxvynjczote0mzm-_v1_
    Spider-Man setelah pesawat kargo jatuh berisi senjata Avengers di Coney Island.

    Hal itu juga memicu Marvel untuk menggunakan para aktor remaja asli untuk film ini, tidak seperti inkarnasi lima film sebelumnya. Memberikan sensasi film di mana memperlihatkan seperti inilah para remaja bertingkah, seperti inilah jika seorang remaja 15 tahun mendapatkan kekuatan super. Bahkan diversitas para aktor di film juga sangat terlihat, sehingga tidak melibatkan aktor kulit putih (caucasian) saja, namun melibatkan aktor keturunan asia, campuran kulit putih-hitam, dan kulit hitam. Sutradara Jon Watts mengatakan dalam wawancara dengan situs Slashfilm bahwa dia merasa Spider-Man: Homecoming adalah film Spider-Man yang benar-benar terasa seperti Amerika.

    Spider-Man di komik memang banyak bicara, bahkan cerewet, dalam situasi apapun. Di inkarnasi film sebelumnya tidak dilakukan sebab akan tampak aneh. Karena Spider-Man dalam MCU dan ada Tony Stark yang memiliki artificial intelligence (AI) bernama Friday, maka di kostum Spider-Man ada AI bernama Karen. Hal ini memperbolehkan Peter yang selalu bicara agar tidak secara aneh ditampilkan, agar penonton tidak merasa canggung bahwa pahlawan mereka suka bicara sendiri.

    mv5bm2nmogyxywetywexny00mdrhlwjlyjqtmjcyzjvhzmflodyzxkeyxkfqcgdeqxvyndqxnjcxnq-_v1_
    Interface di kostum Spider-Man.
  3. Realistic and Personal Villain

    Penulis merasa bahwa pahlawan yang bagus membutuhkan penjahat yang setara juga, yang berarti pahlawan dan penjahat harus memiliki hubungan personal di cerita sehingga ketika cerita klimaks akan lebih memiliki dampak lebih ke penonton dan cerita itu sendiri. Karena itu juga, harus ditampilkan secara realistis tentang latar belakang dan motivasi penjahat dalam melakukan apa yang mereka lakukan. Ingat, setiap penjahat selalu berpikir mereka adalah “pahlawan” di ceritanya mereka.

    Sebab itu penjahat di film ini, yakni Vulture, Shocker, dan Tinker, ditampilkan tidak sebagai orang jahat, melainkan sebagai orang-orang pekerja kasar yang tidak dianggap oleh perusahaan besar, mereka pria berkeluarga, seorang suami dan ayah, yang mereka lakukan adalah mencari nafkah untuk keluarga mereka walaupun dengan cara yang salah.

    mv5bztq4ngrmmditnwrlos00odfhltkwnwytyjzmogy2zjzmytezxkeyxkfqcgdeqxvynjizmda2nje-_v1_
    Michael Keaton sebagai Adrian Toomes/Vulture.

    Dengan cerdas, penjahat Vulture/Adrian Toomes ditampilkan sebagai seorang pria berkeluarga yang memiliki kesulitan keuangan, yang bekerja sebagai pekerja konstruksi. Cerdas sekali film ini menampilkan hubungan dampak serangan alien di New York dengan Adrian Toomes dan para anak buah pekerja kasarnya, yang mana mereka tidak mendapatkan keuntungan dari mengumpulkan rongsokan teknologi Chitauri, malah perusahaan Tony Stark yang mendapatkan keuntungan miliaran.

    Tidak menyangka juga bahwa film ini menyambungkan hubungan Toomes dan Parker secara subteks di mana ayah gadis yang disukai oleh Parker ternyata adalah Toomes sendiri. Boom! plot twist.

    mv5bzge0n2jjzdqtztawos00mje0lthkmzqtzgqyymfjywvjowrhxkeyxkfqcgdeqxvynjk2mji2nty-_v1_
    Toomes berbicara dengan Parker setelah mengetahui bahwa dia adalah Spider-Man.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s