Bagaimana Game of Thrones Membangun Adegan Intens & Emosional?

Serial Game of Thrones (GoT) memiliki cerita yang panjang dan kompleks, tidak ketinggalan banyaknya karakter yang ditampilkan. Filmmakers GoT,  David Benioff dan D.B. Weiss, menayangkan adegan-adegannya yang ditampilkan secara sederhana, menarik, dan menegangkan semenjak awal penayangan GoT pada tahun 2011.

MILD SPOILERS HERE

Struktur Adegan

Dalam buku Story: Substance, Structure, Style and the Principles of Screenwriting oleh Robert McKee, adegan merupakan cerita mini (ministory) dari keseluruhan cerita utama. Adegan memiliki empat unsur penting:

  1. Desire – Keinginan para karakter di dalam suatu adegan ditampilkan.
  2. Action – Tindakan para karakter untuk memperlihatkan keinginannya.
  3. Conflict – Perseteruan antar para karakter.
  4. Change – Di mana cerita memperlihatkan informasi baru dari karakter, atau tindakan di dalam adegan memajukan plot cerita.

GoT menggunakan konsep ini dalam setiap adegannya, baik adegan panjang atau pendek, sebab dengan keempat unsur  tersebut penonton akan lebih mengerti cerita GoT secara keseluruhan secara bertahap setiap episodenya.

jon-snow-sansa-stark-game-of-thrones-season-6
Jon dan Sansa bertemu kembali.

Ambil contoh sebuah adegan di episode 4 season 6 “Book of the Stranger” di mana Jon Snow dan Sansa Stark bertemu pertama kali setelah keluarga Stark pergi ke King’s Landing. Adegan dimulai dengan Jon dan Sansa berbincang kecil mengingat masa lalu mereka. Kemudian keempat unsur tersebut pun dimainkan:

  1. Desire – Sansa ingin kembali pulang ke Winterfell.
  2. Action – Sansa membujuk Jon agar mereka merebut kembali Winterfell (tempat asal keluarga Stark) dari tangan Ramsay Bolton dan pasukannya.
  3. Conflict – Jon lelah dengan semua konflik setelah bangkit dari kematian, namun Sansa tetap ingin kembali merebut Winterfell dengan atau tanpa dia.
  4. Change – Cerita maju di mana Sansa memiliki tujuan untuk memperebutkan Winterfell kembali. Namun Jon enggan memperebutkan hal itu.

Transisi Nilai Emosional

Walaupun dengan keempat unsur tersebut, adegan belum bisa dikatakan bagus jika tidak ada Transisi Nilai Emosi (Transition of Emotional Value). McKee menjelaskan bahwa sebuah adegan emosional memiliki Transisi Nilai Emosi yang merupakan perubahan nilai emosi positif (kesenangan) dan negatif (kesakitan) yang memberikan dinamika di dalam sebuah adegan.

Misalnya seorang karakter tampaknya menang dalam sebuah pertarungan, tapi lawannya yang terbaring menggenggam kakinya hingga terjatuh dan lawan tersebut berhasil mengalahkannya. Atau ketika seorang karakter terpojok di dalam jalan buntu dan tak ada jalan keluar, tiba-tiba dia berhasil mengalahkan lawannya dengan menebas sebilah pedang. Hal-hal seperti inilah yang menjadi Transisi Nilai Emosi.

Namun harus diperhatikan, bahwa transisi tersebut harus dilakukan dengan dinamika yang tepat sehingga tidak terlihat terburu-buru (atau terpaksa). Jika tidak, maka cerita akan terkesan tidak realistis dan tidak masuk akal.

Mungkin untuk adegan dialog selama 3 menit cukup untuk satu transisi, butuh banyak untuk adegan epik, seperti pertarungan pada episode 9 season 6 “Battle of the Bastards“.

  1. Desire – Jon Snow ingin mengalahkan Ramsay Bolton dan memperebutkan kembali Winterfell.
  2. Action – Jon memilih untuk bertarung dengan Ramsay.
  3. Conflict – Pasukan dari Jon dan Ramsay saling bertarung.
  4. Change – Winterfell berhasil diambil kembali, dan Ramsay berhasil dikalahkan.
got7
Jon Snow dalam episode “Battle of the Bastards”.

Namun karena adegan ini berlangsung selama 23 menit, maka dibutuhkan banyak transisi nilai agar adegan tersebut tetap menjadi intens dan menarik. Berikut tabel penjelasan dalam adegan  tersebut di mana Jon mencoba menyelamatkan Rickon dari Ramsay:

trans-1

Memainkan Ekspektasi Penonton

Menurut penulis secara pribadi, film adalah “bahasa” yang familiar untuk semua orang. Sinematografi dan musik (scores) merupakan “kosakata” yang mudah dipahami dan dimengerti. Contohnya seperti close-up shots untuk adegan intens dan penting, wide shots untuk menyampaikan informasi tentang karakter dan lingkungannya. Scores seperti crescendo untuk adegan kekacauan, dan mezzo-forte untuk membuat ketegangan sebuah misteri.

Dengan kedua “kosakata” ini, GoT memainkan ekspektasi dari penonton ketika mereka menyaksikan karakter kesayangannya mungkin akan selamat dari bahaya. . . atau mungkin tidak sama sekali. Sehingga memberikan dampak yang lebih bagus kepada penonton dan membuat cerita semakin berbobot.

• Sinematografi

Untuk memberikan penekanan bahwa betapa intens dan emosional sebuah adegan, maka dibutuhkan sinematografi yang tepat untuk menyesuaikan dengan cerita visual yang ditampilkan.

Maka dari itu, seperti di episode “Battle of the Bastard” ketika Jon sedang bertarung di medan pertarungan, sinematografi beralih dari wide shots ke Lockdown POV shots untuk memberitahukan ke penonton betapa kritikal dan intens dari adegan tersebut. Dan menunjukkan ketidakberdayaan Jon ketika dia terjebak di antara mayat-mayat pasukannya, shots-nya beralih ke close-up.

 

Lockdown POV shots

 

Wide shots ⇒ Close-up shots

• Scores

Di GoT, ada scores tertentu yang digunakan untuk menunjukkan adegan tragis, atau adegan kematian seorang karakter yang disukai oleh penonton. Scores yang dibicarakan adalah “Winter Has Come” oleh komposer Ramin Djawadi, lebih tepatnya bagian awal dari scores tersebut.

Jadi, ketika scores tersebut digunakan pada adegan di mana Jon Snow sedang dalam bahaya dalam “Battle of the Bastards” menjadi cara dari GoT untuk menipu penonton bahwa kemungkinan besar Jon Snow akan mati tragis. Dan digunakan lagi scores tersebut ketika Jon terjebak di antara mayat-mayat pasukannya.

Penerapannya?

Lebih spesifik, pada “Battle of the Bastards“, Davos dan Tormund sebelum pertarungan memiliki dialog di mana mereka sedang membicarakan tentang Jon Snow. Adegan tersebut tidak memiliki unsur Change di mana tidak ada informasi baru dari kedua karakter dan tidak ada satupun tindakan yang memajukan cerita.

3
Davos (kiri) dan Tormund (kanan).

Jadi, ketika kedua karakter tersebut dalam bahaya di pertarungan, penonton akan memiliki rasa khawatir kapan pun mereka menghadapi pasukan Bolton, dan rasa senang kapan pun mereka tidak mati dalam pertarungan tersebut. Hal ini menjadi transisi nilai emosional yang dinamik dan menarik.

Penerapan yang lebih menarik lagi adalah saat GoT memainkan ekspektasi penonton sesaat sebelum pertarungan Winterfell terjadi di “Battle of the Bastards“. Adegan di mana Jon berusaha menyelamatkan Rickon dari tangan Ramsay. Dalam adegan ini, filmmakers GoT menghiraukan The Rule of Three.

The Rule of Three merupakan sebuah pola di mana sebanyak tiga kali akan terjadi dari tindakan sama di mana hasil tindakan pertama dan kedua sama, tapi tidak sama pada ketiga.

rickon-stark-game-of-thrones-ramsay-bolton
Ramsay Bolton (kiri) membebaskan Rickon Stark (kanan) dari tahanannya.

Penonton ditayangkan Ramsay memanah ke arah Rickon. Panah pertama gagal. Kedua gagal. Dan ketiga. . . gagal. Bahkan untuk memberikan sensasi ketegangan adegan, dimainkan crescendo ketika panah ketiga dilepaskan.

Untuk sesaat, penonton berekspektasi bahwa Rickon akan berhasil diselamatkan oleh Jon, namun panah keempat mengenai jantung Rickon.

20160602_ep609_publicity_still_038-001374011-embed
Rickon dibunuh oleh Ramsay dengan panah ketika berusaha lari ke Jon Snow.

Kematian Rickon akan tetap emosional jika dia terkena panah ketiga. Tapi dengan menghiraukan The Rule of Three dan menggunakannya untuk melawan ekspektasi penonton, filmmakers GoT memberikan momen lebih untuk memberikan harapan palsu. Satu transisi nilai emosional yang penting dan kuat.

Kesimpulan

Battle of the Bastards” memiliki unsur adegan yang bagus dengan banyak transisi nilai emosional sehingga membuat sebuah adegan pertarungan yang tidak monoton. Bahkan berhasil memainkan ekspektasi penonton dalam adegan tersebut sehingga penonton akan merasakan penuh harapan, terluka, dan khawatir seperti yang sama dirasakan oleh Jon Snow.

Hal ini menjadi contoh bahwa bagaimana menampilkan cerita juga sama penting dengan menuliskan isi cerita tersebut. Dengan menguasai “bahasa” ini dan menghiraukan aturan yang ada, GoT berhasil membuat penonton tetap mengikuti cerita epiknya sampai season 7 saat ini dan berekspektasi bahwa apapun bisa terjadi di episode-episode GoT selanjutnya.


Demikian dari artikel Film Analysis. Silahkan komen, kritik, dan saran.

Terima kasih sudah membaca ini. As always, keep reading books.

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. I do not know if it’s just me or if everyone else encountering issues with your site.

    It seems like some of the written text in your content are running off the screen. Can someone
    else please provide feedback and let me know if this is happening to them too?
    This might be a problem with my web browser because I’ve had this happen previously.
    Thanks

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s