Mengapa It Bukan Sekadar Film Horror Biasa? (SPOILERS)

Masih ingat film horror Mama (2013)? Sutradara Andy Muschietti kembali dengan film horror-nya yang kali ini sedikit (lebih) berbeda dari Mama. Jika Muschietti menampilkan pentingnya ikatan hubungan cinta antar orang tua dan anak, maka di film It (2017) ini dia menampilkan ketakutan terdalam dari pikiran manusia ke realita dan dampaknya ke kehidupan orang.

Dengan ketakutan tersebut, Muschietti ingin membawa horror dengan yang berbeda dengan sebuah ide bahwa sesuatu yang familiar/innocence bisa menjadi ketakutan yang membayangi pikiran manusia secara menakutkan. (interview ScreenSlam)

Lalu, mengapa dia membuat atmosfer trauma dari ketakutan itu sendiri di film It sehingga membuat film ini bukan sekadar horror biasa? Berikut penjelasannya.

SPOILERS HERE.

a. Kengerian dari Hal Familiar

Dalam interiew dengan ScreenSlam, Muschietti ingin membuat kesesuaian dari sumber cerita buku It oleh Stephen King yang mana memiliki cerita berdarah-darah dan mengerikan secara terang-terangan. Karena itulah, Muschietti membuat suasana film yang menampilkan kengerian dari buku tersebut ke layar lebar dengan tidak menutup-nutupi adegan-adegan horror, seperti adegan ketika Pennywise si Badut menggigit putus tangan Georgie di awal film, atau ketika dia membunuh Patrick di gorong-gorong.

Detailnya, Muschietti berpendapat bahwa setiap orang ketika masa kecil dulu memiliki ketakutan tertentu yang memberikan rasa takut mendalam. Seiring dewasa, mungkin ketakutan tersebut menghilang, tapi dia ingin membawa ketakutan tersebut kembali dengan membuat perasaan takut yang sama itu ke cerita. Dengan tegas dengan sebuah ide bahwa ketakutan pada masa kecil tersebut itu nyata.

Alasan lainnya, Muschietti ingin penonton melihat bahwa horror itu nyata dan dapat membawa petaka sehingga tidak ada rasa aman buat karakter-karakter di film, karena itu adegan tersebut ditampilkan terang-terangan. Bahwa setiap karakter bisa mati, sehingga menciptakan atmosfer ketakutan yang nyata tersebut muncul setiap kali karakter anak dari Losers’ Club berhadapan langsung dengan Pennywise.

b. Phobia dan Cara Menghadapinya

Inilah yang menjadi titik pembeda utama dari film horror lain dengan film It: phobia. Bukankah semua film horror ada phobia? Benar, tapi di film ini pandangan tentang phobia dan bagaimana cara menampilkan phobia tersebut menjadi berbeda.

mv5bmjeymzm3njm0nf5bml5banbnxkftztgwmdq1nzmzmzi-_v1_sy1000_cr0015021000_al_
[kiri ke kanan] karakter Mike, Ritchie, Beverly, Bill, Eddie, Stan, dan Ben.
Setiap phobia yang dimiliki masing-masing anak dari Losers’ Club berbeda-beda.

  • Bill takut dan bersalah atas kematian adiknya, Georgie. Sehingga Pennywise menampakkan dirinya sebagai Georgie.
  • Ben memiliki rasa kesendirian mendalam atas isolasi dari lingkungannya karena dia anak baru di kota Derry. Sehingga Pennywise memberikan nuansa isolasi ke dia ketika di perpustakaan, hanya Ben yang melihat balon merah melayang, tapi tidak orang lain.
  • Beverly memiliki ketakutan menjadi dewasa (menstruasi) karena perlakuan kasar dan tak senonoh dari ayahnya. Sehingga Pennywise menampakkan tumpahan darah di sekeliling kamar mandi, walaupun ayahnya tidak bisa melihat darah itu.
  • Mike trauma kehilangan orang tuanya karena kebakaran. Sehingga Pennywise menampakkan tangan-tangan yang keluar dari pintu di mana ada kobaran api.
  • Eddie, seorang hypochondriac (penderita penyakit yang tak nyata), yang diproteksi ketat oleh ibunya sendiri. Pennywise menampakkan diri sebagai werewolf (makhluk tak nyata) dan penderita kusta yang mengejar-ngejar Eddie.
  • Stan merasa bersalah atas kekecewaan ayahnya, seorang rabbi, karena dia belum fasih untuk membaca Hebrew. Pennywise menampakkan dirinya sebagai wanita dari lukisan kantor ayahnya.
  • Ritchie takut badut. Well, Pennywise IS a clown.

Pada umumnya, film horror akan memiliki satu subjek horror yang sama di mana ditakuti oleh para karakter di film. Tapi, di film ini ketakutan dihasilkan dari masing-masing sudut pandang karakter. Ketakutan mereka berasal dari alam bawah sadar mereka yang kemudian ditampilkan oleh Pennywise.

Masing-masing phobia menciptakan rasa trauma bagi para karakter Losers’ Club sehingga mereka memiliki rasa ketakutan yang berlebihan. Bahkan karena interaksi dengan Pennywise, selain Bill, mereka awalnya enggan untuk berhadapan dengan Pennywise. Namun setelah Beverly diculik oleh Pennywise, anak-anak Losers’ Club siap kembali untuk berhadapan dengannya. Malahan, Mike membawa bolt pistol yang dia takuti di awal film ketika enggan menggunakannya untuk membunuh ternak.

Film ini berpesan bahwa setiap orang memiliki rasa ketakutan masing-masing yang berbeda, baik rasional ataupun tidak. Setiap orang memiliki trauma yang membayangi kehidupan mereka secara mendalam dan beberapa ketakutan itu bersifat kasat mata. Dan setiap orang harus menghadapi ketakutan mereka untuk maju (move on) di kehidupan.

Serta, kita tidak harus menghadapi ketakutan tersebut sendirian, orang-orang bisa menghadapinya secara bersama-sama. Bahu-membahu, saling membantu satu sama lain untuk menghadapi ketakutan itu sendiri.

c. Pandangan Orang Dewasa dan Anak

Secara pribadi, penulis berpendapat bahwa cara membawakan karakter orang dewasa dan anak di film ini sangat kontras sekali. Orang dewasa ditampilkan tidak mengerti terhadap ketakutan para anak maka mereka tidak melihat Pennywise, ditampilkan secara menjijikan (terutama sang apoteker ketika berbicara dengan Beverly), ditampilkan bahwa mereka menipu, bahkan berlaku kasar terhadap anak-anak.

Tidak ada satupun karakter orang dewasa yang baik di film ini. Hal ini sepertinya merupakan bahwa orang dewasa tidak mengerti ketakutan yang dialami oleh para anak, maka mereka memperlakukan anak-anak layaknya orang dewasa lain dengan tegas dan buka-bukaan. Bahwa orang dewasa tidak menolong para anak untuk menghadapi Pennywise karena mereka tidak mengerti.

Karakter Henry Bower, sang bully, yang ayahnya seorang polisi bahkan berani terang-terangan menembakan peluru hanya untuk menakutkan dan membuktikan betapa menyedihkannya Henry di hadapan teman-temannya. Pada akhirnya, Henry sendiri membunuh ayahnya dengan pisau pemberian Pennywise, dan dengan sedikit dorongan, Henry benar-benar melakukannya.

d. Kekuatan Kepercayaan

Film horror lain, para karakter harus membunuh atau menghancurkan monster atau makhluk yang menakutkan agar masalah selesai. Di film ini, para karakter harus menerima dan menghadapi ketakutan mereka masing-masing di dalam pikiran agar Pennywise dapat dikalahkan. Jadi, lebih mencondong ke faktor internal di mana seseorang harus berani menerima dan menghadapi ketakutan di pikiran mereka sebelum menghadapi ketakutan yang berada di depan mata mereka.

Pada babak ketiga film, hal itu menjadi penting ketika Bill mengatakan, “You didn’t kill Beverly because she’s not afraid of you.” Bahkan adegan ketika penampakan Georgie ke Bill membuat hal ini menjadi jelas. Bill mengatakan, “You’re not real because you’re not Georgie.” Dan memang benar, karena Pennywise berusahan menipu Bill dengan menampakkan dirinya sebagai Georgie.

Bill menggunakan senjata bolt pistol milik Mike, namun Mike sempat berteriak, “It’s not loaded.” Senjatanya tidak berisi, namun anehnya ketika Bill menarik pelatuk, Pennywise bertingkah seolah-olah dia terkena tembakan. Hal ini sesuai di buku, bahwa kekutan kepercayaan di mana para karakter tidak takut dan mereka percaya yang mereka lakukan akan mengalahkan Pennywise itu merupakan solusi dari masalah mereka.

Pennywise pun berhasil dikalahkan. . . untuk sekarang, sampai sekuel film It pada tahun 2019 mendatang.


Terima kasih sudah membaca artikel Film Analysis ini. Silahkan komen, saran, dan kritik. Nantikan artikel selanjutnya.

As always, keep reading books.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. wah jadi pingin liat film nya nih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s