Bagaimana A Ghost Story Menghipnosis Penonton? (SPOILERS)

Jika mencari film dengan penceritaan visual yang sederhana dan minim dialog, maka A Ghost Story (2017) mungkin menjadi jawabanmu. Film yang disutradarai dan ditulis oleh  David Lowery ini memiliki kekuatan tersirat yang membuatnya menarik penonton untuk memikirkan tentang kehidupan, romansa, dan arti kehilangan orang yang dicintai.

Lalu, bagaimana cara Lowery membuat A Ghost Story menjadi film tematis yang menghipnosis penonton? Berikut penjelasannya.

SPOILERS HERE.

a. Cerminan Emosi dengan Visual yang Minimalis

Menggunakan sinematografi yang minimalis dan kesederhanaan palet warna (color palette) dalam film menjadi suatu bentuk pernyataan bahwa film ini akan memfokuskan pada satu hal: emosi karakter. Dengan seperti itu, penonton akan lebih memilih melihat ekspresi karakter dalam film, yaitu M (Casey Affleck) dan C (Rooney Mara).

Kekuatan emosi dari karakter yang menjadi semacam “rasa” film menjadi berbobot, karena aktor Affleck dan Mara berhasil menampilkan setiap emosi dan refleksi dari emosi tersebut ke layar lebar.

A Ghost Story menggunakan film rasio aspek 1.33 : 1 yang dapat dibilang agak aneh karena rasio aspek tersebut digunakan pada TV klasik dan menampakkan semacam visual “kotak” yang dibilang jadul. Mungkin jadul-lah yang menjadi alasan, sebab film ini memainkan waktu di cerita, seperti waktu kematian M, C meninggalkan rumahnya, hantu M menjelajahi waktu hingga rumah tersebut dirobohkan dan menjadi gedung, sampai waktu kembali ke lampau sebelum rumah tersebut dibangun. Bahkan hantu M berada di rumah tersebut ketika ditempati oleh keluarga lain.

mv5bnmzim2zmm2qtnge0zc00ywzmlwewy2etntawmju2njzizte4xkeyxkfqcgdeqxvyndg2mjuxnjm-_v1_sy1000_sx1500_al_
Hantu M di rumah. (Aspect ratio 1.33 : 1)

Hal ini menjadi ketertarikan untuk menciptakan semacam nostalgia ke penonton dengan visual yang minimalis dan bercita rasa klasik. Blocking (penempatan karakter di dalam adegan) pun dirasa disengajakan memiliki kekakuan sehingga mencerminkan karakter hantu M yang tidak bisa meninggalkan (kenangan) rumah tersebut. Sinematografi juga menggunakan teknik subframing untuk menambahkan kekakuan tersebut ke film.

mv5bmdk4ngm1njktzwrmmi00mgeylthmnzatntq1ytmzmzbkmtjlxkeyxkfqcgdeqxvymzexmty0mju-_v1_
Hantu M di masa lalu sebelum rumah tersebut dibangun.

Teknik subframing: Menarik perhatian penonton dengan menempatkan subjek yang ter-frame melalui objek lain.

b. Film Tematis Bercerita Kehidupan

Film ini menceritakan kedua insan yang saling mencintai, M dan C. Namun tragedi datang menimpa M di mana dia mengalami kecelakaan mobil dan meninggal dunia. C merasa sedih yang mendalam dan muncul rasa kehilangan yang besar.

Film ini membawa kedua karakter ke dalam sebuah perjalanan kehidupan di mana hantu M tidak mau meninggalkan dunia dan kembali ke C, dan C memperlihatkan rasa kehilangannya atas kematian M.

Film ini memainkan dengan cerdas, menjalani setiap adegan untuk menciptakan rasa kehilangan dan kerinduan tersebut dengan adegan berjalan lamban tanpa dialog.

hantu M tidak bisa meninggalkan rumah tersebut karena kenangannya bersama C, bahkan C meninggalkan sepucuk kertas sebelum meninggalkan rumah tersebut. Emosi adegan tersebut sangat bagus dimainkan, karena walaupun M sudah mati, dia masih bertingkah layaknya dia masih hidup, masih memiliki emosi. Hantu M terikat akan kenangannya sendiri.

Hantu M mencari sepucuk kertas yang ditinggalkan oleh C, sepanjang film dia mencari-cari kertas tersebut. Dan ketika berhasil membacanya, seketika itu juga dia menghilang. Sepertinya ini adalah sebuah perumpamaan, bahwa hanya ketika hantu M menerima kenyataan barulah dia bisa bebas, terlepas dari dunia.

c. Perulangan Waktu

Waktu di film menjadi sesuatu yang menarik, berjalan linear dan diulang-ulang sebab hantu M yang tidak mau meninggalkan dunia dan kenangannya ketika masih hidup. Hal ini menjadi suatu pandangan yang berbeda untuk hantu M bahwa dia ingin melihat kejadian-kejadian untuk merasakan emosi walaupun hal itu mustahil untuk terjadi untuknya.

Lowery, dalam wawancara dengan BUILD Series, menggunakan looping (perulangan) tersebut untuk menciptakan rasa pahit-manis ke penonton ketika melihat adegan di mana hantu M melihat semua kejadian-kejadian yang dilihatnya. Menciptakan rasa kerinduan akan emosi dan kenangan ketika dia masih hidup.

d. Sepucuk Kertas

C menulis sesuatu sebagai kenangan pada sepucuk kertas, dan menaruhnya di bagian dinding rumah. Kertas itu yang dicari-cari oleh hantu M dan setelah membacanya, dia menghilang. Namun penonton tidak diperlihatkan apa yang ditulis oleh C.

Lowery mengatakan hal tersebut disengajakan bahwa bukan apa yang tertulis di kertas, tetapi emosi apa yang dibawa kertas tersebut. Kekuatan emosi yang menjadi fokus untuk menarik penonton ke dalam adegan tersebut sehingga membuat bobot cerita menjadi lebih bagus.

Aktor Affleck yang ketika itu dekat dengan Mara, tidak bisa melihat apa yang ditulis olehnya. Bahkan Mara sendiri mengakui lupa menulis apa di kertas tersebut. Walaupun sutradara Lowery mengatakan ke Mara, “Tulislah sesuatu yang personal baginya dalam film tersebut.” Lowery mengatakan hal tersebut ke Mara sebelum merekam adegan tersebut.

Jadi, film ini memainkan ambiguitas cerita dan menggantikannya dengan kekuatan emosi yang ditampilkan oleh karakter.


Terima kasih sudah membaca artikel Film Analysis ini. Silahkan komen, kritik, dan saran.

As always, keep reading books.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s